Home Berita Internasional Dua Komando Elite Israel Tewas dalam Serangan Drone Hizbullah

Dua Komando Elite Israel Tewas dalam Serangan Drone Hizbullah

Sumbawanews.com,- Pertempuran di perbatasan Lebanon-Israel kembali mencatat korban berarti. Dua prajurit elite Israel tewas dalam serangan drone bermuatan peledak yang dilancarkan Hizbullah di wilayah selatan Lebanon, menambah daftar kerugian militer Zionis dalam konflik yang kian mengganas.

Menurut laporan resmi militer Israel, salah satu korban berasal dari Brigade Maglan, satuan komando khusus yang biasa ditugaskan dalam operasi penyusupan dan serangan presisi. Korban kedua merupakan anggota Brigade Givati, unit pengintai yang dikenal tangguh dalam pertempuran jarak dekat. Kedua unit ini merupakan tulang punggung pasukan elit Israel Defense Forces (IDF).

Serangan itu terjadi dalam rentang 24 jam, menyusul serangan drone serupa sehari sebelumnya yang menewaskan seorang tentara dari Givati dan melukai empat rekan seniornya di kawasan Zawtar al-Sharqiya. Dalam insiden terbaru, dua tentara tewas dan tiga lainnya terluka—salah satunya dalam kondisi kritis—ketika pasukan Israel sedang berpatroli di wilayah perbatasan.

Drone yang digunakan Hizbullah, dikenal sebagai FPV (First Person View), adalah alat tempur ringan namun mematikan. Dilengkapi kamera real-time dan muatan eksplosif, drone ini mampu menembus sistem pertahanan udara Israel dengan akurasi tinggi, bahkan di area yang dianggap aman oleh militer Zionis. Rekaman yang beredar menunjukkan drone meluncur rendah, menghindari radar, lalu menghantam kendaraan militer atau posisi pasukan dengan presisi hampir sempurna.

Kehilangan dua komando elite dalam waktu singkat bukan sekadar tragedi personal, tapi indikasi strategis. Para analis militer Israel mengakui bahwa Hizbullah kini telah mengubah permainan. Dengan memanfaatkan teknologi drone yang murah namun efektif, kelompok ini mampu menyerang secara berulang tanpa perlu mengandalkan roket konvensional yang lebih mudah dideteksi dan diintersep.

Sejak konflik meletus kembali pada Maret 2026, sedikitnya 26 tentara Israel tewas dalam serangan serupa, sementara IDF melaporkan lebih dari 3.300 warga Lebanon tewas dalam serangan balasan. Namun, keunggulan angka tidak lagi menjamin keunggulan taktis. Militer Israel kini menghadapi dilema: operasi darat yang luas di Lebanon selatan gagal menghentikan serangan drone, sementara sistem pertahanan seperti Iron Dome terbukti kurang efektif melawan ancaman udara rendah yang datang secara tiba-tiba.

Para pejabat militer Israel mengakui bahwa Hizbullah telah mengembangkan kemampuan logistik dan pelatihan yang luar biasa. Drone-drone itu tidak hanya dikendalikan dari jarak jauh, tetapi juga diproduksi secara lokal, diperbarui secara berkala, dan dikerahkan dalam gelombang berurutan—menguras stamina dan fokus pasukan Israel yang sudah lelah bertempur di medan yang tidak ramah.

Di utara Israel, sirine peringatan kini menjadi bunyi harian. Penduduk desa-desa perbatasan hidup dalam ketakutan akan serangan mendadak, sementara tentara yang dikirim ke garis depan menghadapi tekanan psikologis yang semakin berat. “Mereka tidak menyerang dengan kekuatan besar, tapi dengan ketekunan kecil yang terus-menerus,” ujar seorang perwira Israel yang tidak mau disebutkan identitasnya.

Dengan setiap serangan drone, Hizbullah bukan hanya menewaskan prajurit—tapi juga mengikis kepercayaan Israel atas superioritas militernya. Di tengah keheningan malam di Lebanon selatan, suara propeler drone yang semakin dekat kini menjadi simbol baru dari perang modern: tidak perlu pesawat tempur, tidak perlu tank, cukup satu alat kecil yang dikendalikan dari balik bukit—dan satu nyawa bisa berakhir dalam sekejap.

Previous articleSurat Pemberitahuan Aksi Beredar, Massa Ancam Tutup Sejumlah Pelabuhan di Kayangan dan AMMAN
Next articleJokowi Kenang Ryamizard: Sederhana, Tegas, Berani
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik