Sumbawanews.com,- Ketua Asosiasi Sepak Bola Palestina, Jibril Rajoub, masih terjebak di Kota Meksiko, menanti izin masuk Amerika Serikat untuk menghadiri Piala Dunia FIFA 2026—meski ia adalah salah satu dari ratusan pejabat resmi yang diundang oleh FIFA. Dengan suara penuh kekecewaan, Rajoub menegaskan: “Tidak ada keadilan ketika kekuasaan digunakan untuk menolak hak para pelaku sepak bola global yang ingin hadir dalam perayaan persatuan ini.”
Meski tim nasional Palestina gagal lolos ke putaran final, FIFA secara konsisten mengundang ketua federasi dari semua negara anggota—termasuk yang tak berpartisipasi langsung—sebagai bagian dari prinsip inklusivitas global. Namun, pemerintah AS justru membatasi akses bagi sejumlah delegasi, termasuk seorang wasit asal Somalia dan fotografer dari Irak.
Gianni Infantino, Presiden FIFA, mengakui upaya organisasinya untuk membantu menyelesaikan hambatan visa, tetapi menegaskan bahwa FIFA tidak memiliki wewenang untuk mengesampingkan keputusan kedaulatan negara tuan rumah. “Kami bukan raja dunia yang bisa memerintah aparat hukum AS,” ujarnya dalam konferensi pers pada 10 Juni.
Kebijakan visa AS terhadap warga Palestina semakin ketat sejak tahun lalu. Pemerintah Washington membatasi akses bagi pemegang paspor Palestina, terutama yang pernah bekerja untuk Otoritas Palestina. Bahkan, visa Presiden Mahmoud Abbas untuk menghadiri Sidang Umum PBB pada September 2025 pun dicabut tanpa penjelasan resmi.
Rajoub, yang juga tokoh politik senior, tidak hanya memperjuangkan hak akses, tetapi juga menyerukan keadilan dalam sepak bola global. Ia mengecam Israel karena mengizinkan tim-tim dari permukiman ilegal di Tepi Barat untuk berlaga dalam liga nasional Israel—pelanggaran terang-terangan terhadap aturan FIFA. Ia juga menyoroti dampak perang di Gaza: 80 persen fasilitas olahraga Palestina hancur, dan setidaknya 565 pemain tewas.
Puncak ketegangan terjadi bulan lalu, ketika Rajoub menolak berjabat tangan dengan ketua federasi sepak bola Israel—meski diminta langsung oleh Infantino. “Ini bukan soal simbol. Ini soal luka yang belum sembuh. Jabat tangan tidak akan menutupi kejahatan, hanya menyamarkannya,” tegasnya.
Ia menyoroti perbandingan dengan Piala Dunia 2018 di Rusia, di mana semua delegasi, tanpa terkecuali, diberi akses tanpa hambatan. “Jika sepak bola benar-benar tentang persatuan, mengapa ada yang dianggap terlalu berbahaya untuk hadir?”
Sementara itu, di balik layar, tim hukum FIFA terus berkoordinasi dengan otoritas AS, namun tanpa jaminan hasil. Rajoub tetap menunggu di Meksiko—seorang pejabat yang datang untuk merayakan olahraga, tapi terjebak dalam politik yang tak pernah berhenti bermain.

















