Home Berita Internasional Starmer Mundur, Gelombang Politik Inggris Bergolak

Starmer Mundur, Gelombang Politik Inggris Bergolak

Sumbawanews.com,- Keir Starmer resmi mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Perdana Menteri Inggris pada Senin, 22 Juni 2026, menutup babak lima tahun kepemimpinannya yang penuh tantangan. Dalam pidato singkat namun berat di depan Gedung Downing Street, Starmer—dengan suara yang terdengar bergetar dan mata berkaca-kaca—mengatakan bahwa keputusan ini diambil demi kepentingan stabilitas nasional dan partai Buruh, yang mengalami tekanan politik luar biasa pasca pemilu terakhir.

Ia menjadi Perdana Menteri Inggris keempat dalam lima tahun terakhir yang meninggalkan jabatan sebelum masa jabatannya berakhir, sebuah fenomena yang belum pernah terjadi sejak era pasca-Perang Dunia II. Pengunduran dirinya tak datang tiba-tiba: sejak beberapa minggu terakhir, tekanan dari dalam partai, kekalahan elektoral di pemilu lokal, dan kritik tajam atas kebijakan ekonomi dan imigrasi semakin menggerogoti legitimasi pemerintahannya.

“Saya tidak meninggalkan jabatan ini karena kekalahan, tapi karena saya percaya bahwa Inggris membutuhkan kepemimpinan baru yang bisa menyatukan kembali bangsa ini,” ujar Starmer, yang sejak awal menjabat pada Juli 2024 dikenal sebagai figur tenang, disiplin, dan berorientasi pada hukum—kontras dengan gaya populis pendahulunya.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengumumkan jadwal pemilihan pemimpin baru Partai Buruh akan dimulai dalam waktu 30 hari, dengan pemilihan perdana menteri baru dijadwalkan pada akhir Agustus 2026. Ia menegaskan bahwa pemerintahan akan tetap berjalan stabil selama masa transisi, dan ia akan tetap menjabat sebagai PM sementara hingga penggantinya secara resmi dilantik.

Kabar ini langsung memicu gelombang reaksi global. Di Washington, Presiden AS Donald Trump menyebut keputusan Starmer sebagai “bukti kegagalan total sistem sosial-demokrat,” sementara di Brussels, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan “kehilangan seorang mitra yang dapat diandalkan.” Di dalam negeri, oposisi Konservatif menyambutnya sebagai “titik balik sejarah,” sementara sejumlah tokoh Buruh memuji Starmer sebagai “pemimpin yang berani mengutamakan negara daripada kekuasaan.”

Pengunduran diri Starmer juga membuka pintu bagi munculnya sejumlah kandidat kuat dalam partai, termasuk Angela Rayner, wakilnya yang kini menjadi figur sentral, serta Keir Starmer sendiri yang pernah memimpin partai dari kekalahan telak 2019 hingga kembali berkuasa pada 2024—sebuah pencapaian yang sebelumnya dianggap mustahil.

Kini, Inggris memasuki masa ketidakpastian politik yang belum pernah terjadi dalam satu dekade terakhir. Dengan pemilu umum yang diperkirakan akan digelar sebelum akhir tahun, seluruh mata dunia kini tertuju pada London—bukan hanya untuk melihat siapa yang akan menggantikan Starmer, tapi juga untuk mengetahui apakah demokrasi Inggris mampu bertahan dari badai yang terus menghantam institusi politiknya.

Previous articleASEAN Darurat Perkuat Ketahanan Energi dan Pangan
Next articleAncaman Baru Pemberedelan di Dunia Digital
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik