Sumbawanews.com,- Dinamika ketegangan di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Amerika Serikat, bukan lagi sekadar konflik geopolitik jauh dari kawasan Asia Tenggara. Bagi ASEAN, situasi ini adalah peringatan keras: ketahanan energi dan pangan kawasan harus segera diperkuat, sebelum krisis global mengguncang sendi-sendi ekonomi domestik.
Mantan Menteri Luar Negeri Indonesia Hassan Wirajuda, yang hadir di Forum Jakarta 2026 memperingati lima tahun kemitraan strategis ASEAN-China, menekankan bahwa gangguan pasokan minyak, gas, dan pupuk akibat konflik di Timur Tengah telah menembus batas geografis dan langsung mengancam stabilitas kawasan. “Dunia tidak lagi menjamin stabilitas. Kita tidak bisa bergantung pada rantai pasok global yang rapuh,” ujarnya di Jakarta, Senin, 22 Juni 2026.
Ia menyoroti bagaimana krisis energi di Timur Tengah berdampak berantai: kelangkaan bahan bakar mengganggu produksi listrik, yang pada gilirannya memperlambat industri, pertanian, dan distribusi pangan. Untuk itu, ASEAN perlu segera mempercepat implementasi jaringan listrik terintegrasi regional—sistem yang memungkinkan negara dengan surplus energi, seperti Indonesia atau Malaysia, mengalirkan listrik ke negara yang mengalami defisit, seperti Kamboja atau Laos.
“Ini bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan strategis,” tegas Wirajuda. “Kita harus berpikir seperti satu sistem energi tunggal, bukan 10 negara yang saling bersaing untuk bertahan.”
Langkah selanjutnya, menurutnya, adalah membangun mekanisme produksi listrik bersama—misalnya melalui konsorsium pembangkit energi terbarukan lintas batas—yang tidak hanya mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil, tetapi juga memperkuat ketahanan iklim.
Di bidang pangan, Wirajuda menekankan perlunya kerja sama serupa. “Pupuk impor dari Rusia atau Timur Tengah bisa tiba-tiba terhenti. Kita harus mampu memproduksi pupuk sendiri, atau setidaknya membangun cadangan strategis bersama.” Ia mencontohkan inisiatif seperti kemitraan pertanian antar-negara ASEAN, pengembangan varietas tanaman tahan iklim, dan sistem logistik pangan regional yang terintegrasi.
Krisis di Timur Tengah, tambahnya, juga mengungkap kelemahan tatanan dunia yang selama ini dianggap stabil. “Perang di Iran, serangan terhadap Venezuela—semuanya berakar pada sumber daya. Ini bukan kebetulan. Ini adalah tanda bahwa kekuatan ekonomi global kini lebih berorientasi pada kontrol sumber daya daripada hukum internasional.”
Oleh karena itu, Wirajuda menyerukan ASEAN untuk tidak hanya bereaksi, tetapi memimpin. “Obat penawarnya adalah kerja sama regional yang lebih dalam, lebih terstruktur, dan lebih berani. Kita harus menjadi mitra yang dihormati, bukan penonton yang terjebak dalam badai.”
Dengan kekayaan sumber daya alam, populasi muda, dan posisi strategis di jalur perdagangan dunia, ASEAN memiliki modal besar untuk menjadi blok ketahanan global. Tapi waktu terus berjalan—dan setiap hari ketergantungan pada pasar global yang tidak stabil semakin berisiko.















