Sumbawanews.com,- Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg (SPIEF) 2026 berakhir dengan capaian luar biasa: lebih dari 1.084 kesepakatan bisnis senilai 6,642 triliun rubel, atau sekitar US$ 90,43 miliar, ditandatangani selama forum berlangsung. Angka ini menjadi bukti nyata pulihnya minat global terhadap pasar Rusia, meski di tengah tekanan geopolitik yang masih berlangsung.
Dalam konferensi pers penutupan pada Sabtu (6/6), Penasihat Presiden Rusia sekaligus Sekretaris Eksekutif SPIEF, Anton Kobyakov, mengungkapkan bahwa pergeseran utama tahun ini bukan lagi pada perdagangan konvensional, melainkan pada investasi jangka panjang dan kolaborasi produksi. “Para pelaku usaha mulai melihat Rusia bukan sekadar pasar, tapi sebagai mitra strategis dalam rantai nilai global,” ujarnya.
SPIEF 2026, yang dihadiri lebih dari 24.500 delegasi dari 142 negara, mencatat partisipasi resmi Amerika Serikat untuk pertama kalinya dalam satu dekade. Delegasi AS dipimpin oleh Ketua Komisi Seni Rupa AS, Rodney Cook, sebuah sinyal bahwa hubungan ekonomi antara Washington dan Moskow mulai mencair—meski tetap dengan langkah hati-hati.
Forum yang sering disebut sebagai “Davos versi Rusia” ini menggelar lebih dari 300 sesi diskusi, melibatkan 2.000 pembicara dari sektor pemerintah, bisnis, akademisi, dan organisasi internasional. Topik yang dibahas tak hanya meliputi transformasi ekonomi dan teknologi masa depan, tetapi juga dampaknya terhadap kualitas hidup masyarakat global.
Kobyakov menekankan bahwa ketertarikan baru dari pelaku usaha Barat terhadap Rusia tidaklah naif. Ia menyebutnya sebagai “optimisme yang berhati-hati”—di mana investor masih memantau dinamika geopolitik sebelum memperluas keterlibatan. Namun, fakta bahwa perusahaan multinasional kembali mengirimkan tim negosiasi ke St. Petersburg menjadi indikator kuat bahwa isolasi ekonomi Rusia mulai terkikis.
Di tengah lanskap global yang terpecah, SPIEF 2026 bukan sekadar ajang tanda tangan kontrak. Ia menjadi panggung di mana Rusia kembali menegaskan posisinya sebagai poros ekonomi baru—terutama bagi negara-negara Global South yang mencari alternatif dari sistem tradisional Barat. Dengan partisipasi aktif dari Indonesia, Brasil, India, dan negara-negara BRICS lainnya, forum ini semakin membentuk arsitektur ekonomi multipolar yang tak lagi bergantung pada satu kutub.
Dengan nilai kesepakatan yang melampaui angka tahun sebelumnya, SPIEF 2026 membuktikan bahwa dalam dunia yang penuh ketidakpastian, peluang bisnis tetap lahir—bahkan di tempat yang paling tak terduga.

















