Home Berita Internasional Serikat Pelayaran Pertahankan Selat Hormuz sebagai Zona Perang

Serikat Pelayaran Pertahankan Selat Hormuz sebagai Zona Perang

Sumbawanews.com,- London — Meski gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat telah disepakati, serikat pekerja pelayaran dan asosiasi pemilik kapal tetap mempertahankan status Selat Hormuz sebagai zona perang. Keputusan ini diambil menyusul dua serangan terhadap kapal dagang dalam seminggu terakhir, yang memperkuat kekhawatiran akan ancaman keselamatan bagi awak kapal dan muatan strategis.

Dalam pernyataan bersama, Federasi Pekerja Transportasi Internasional (ITWF) dan Joint Negotiating Group — kelompok yang mewakili ratusan perusahaan pelayaran global — menegaskan bahwa risiko di jalur strategis itu masih “signifikan dan terus berubah dengan cepat.” Status ini, yang pertama kali diberlakukan pada 5 Maret 2026 setelah sejumlah kapal menjadi sasaran bom, kini diperpanjang hingga 9 Juli mendatang dan akan dievaluasi setiap minggu.

Dampak langsung dari penetapan ini adalah pemberian upah ganda dan tunjangan risiko tinggi bagi para pelaut yang melintasi kawasan tersebut. Kebijakan ini, meski melindungi keselamatan awak kapal, secara otomatis membebani biaya operasional industri pelayaran global yang sudah terpukul oleh ketidakpastian geopolitik.

Sejak konflik bersenjata antara AS-Israel dan Iran meletus pada 28 Februari 2026, setidaknya 14 pelaut tewas dan lebih dari 40 kapal menjadi sasaran serangan — baik oleh drone, rudal, maupun ranjau laut. Menurut Kementerian Pertahanan Italia, ratusan ranjau canggih telah ditanam di dasar Selat Hormuz, memerlukan waktu sekitar dua bulan untuk dibersihkan sepenuhnya. Komandan Komando Operasi Gabungan Italia, Giovanni Maria Iannucci, mengatakan, “Ranjau-ranjau ini dirancang secara modern dan memerlukan keahlian khusus yang tidak dimiliki semua negara.”

Pembersihan jalur ini pun menjadi isu diplomasi. Prancis mengajukan bantuan teknis, namun Iran menolak campur tangan asing. Sementara itu, Oman menyatakan tidak akan memungut biaya tol untuk pelayaran, tetapi tetap mempertimbangkan biaya keselamatan yang harus ditanggung perusahaan.

Dengan 20 persen pasokan minyak global melewati Selat Hormuz, ketidakpastian di jalur ini terus mengguncang pasar energi dunia. Meski ada jalur alternatif melalui Laut Merah dan Laut Kaspia, kapasitasnya belum mampu menampung volume lalu lintas yang biasa melewati selat sempit itu.

Dengan status zona perang yang masih berlaku, para pelaut yang berani melintasi kawasan ini bukan hanya menghadapi bahaya fisik — mereka juga menjadi ujung tombak ketahanan ekonomi global di tengah badai geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Previous articleLinkedIn Jadi Sarang Mata-Mata China, Lowongan Palsu Incar Data Strategis
Next articleTujuh Tersangka Baru Kasus Korupsi MBG Ditetapkan Kejagung