Sumbawanews.com,- Aliansi intelijen Five Eyes—yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Australia, Kanada, dan Selandia Baru—mengungkap operasi spionase siber yang dilancarkan oleh agen-agen China melalui platform LinkedIn. Dalam laporan yang dirilis pada 2 Juli 2026, para pelaku diduga menyamar sebagai perekrut profesional, memasang lowongan pekerjaan palsu yang terlihat meyakinkan untuk mendekati individu dengan akses terhadap informasi sensitif.
Sasaran utama operasi ini adalah personel militer, pegawai pemerintah, peneliti, akademisi, jurnalis, dan profesional lain yang memiliki keterlibatan langsung maupun tidak langsung dengan data strategis nasional. Pelaku menciptakan profil perusahaan fiktif yang tampak sah, sering kali mengatasnamakan konsultan manajemen, firma sumber daya manusia, atau lembaga riset berbasis internasional.
Proses rekrutmen dimulai dengan pendekatan halus melalui pesan pribadi di LinkedIn. Korban yang tertarik kemudian diundang ke wawancara virtual, di mana mereka diminta menyusun laporan atau analisis teknis sebagai bagian dari seleksi. Seiring waktu, permintaan ini berkembang menjadi upaya sistematis untuk memperoleh informasi yang tidak tersedia secara publik—termasuk teknologi pertahanan, kebijakan industri strategis, atau data riset keamanan nasional.
Badan intelijen AS, termasuk FBI, telah mengeluarkan peringatan resmi kepada warganya agar waspada terhadap tawaran kerja yang terlalu menggiurkan, terutama jika perekrut enggan mengungkap identitas perusahaan secara jelas atau meminta data sensitif sejak tahap awal. Meskipun LinkedIn menjadi fokus utama, platform serupa seperti Indeed dan Upwork juga disebut berpotensi dimanfaatkan dengan modus yang sama.
Five Eyes menekankan pentingnya verifikasi kredibilitas perekrut, memeriksa keberadaan perusahaan di sumber resmi, dan menjaga kerahasiaan informasi pribadi maupun profesional. Mereka menegaskan, tidak ada alasan sah bagi sebuah perusahaan legit untuk meminta data rahasia sebagai syarat rekrutmen.
Operasi ini menjadi indikasi baru dari perang informasi yang semakin canggih, di mana jaringan profesional daring—yang awalnya dirancang untuk memperkuat kolaborasi—berubah menjadi medan pertempuran spionase modern.















