Sumbawanews.com,- Seoul – Dalam sebuah peragaan busana yang memecahkan batas antara manusia dan mesin, robot humanoid berbasis kecerdasan buatan tampil berdampingan dengan model manusia di atas catwalk Seoul. Aksi ini bukan sekadar pamer teknologi, tapi simbol awal dari era baru di mana fashion tak lagi eksklusif untuk tubuh biologis.
Peragaan yang digelar oleh Galaxy Corporation itu menampilkan sejumlah robot humanoid dengan kostum yang sengaja dirancang selaras dengan pakaian model manusia. Salah satu robot mengenakan setelan koboi biru lengkap dengan topi, sementara model di sampingnya memakai desain serupa. Di sisi lain, robot lainnya mengenakan jaket metalik dan gaun futuristis yang seolah meniru aliran arsitektur digital.
Ini bukan pertama kalinya robot tampil di dunia mode—pada 2018, model Irina Shayk pernah berjalan berdampingan dengan robot mirip Transformers di New York Fashion Week. Tapi kali ini, kolaborasi jauh lebih terintegrasi. Robot tidak hanya jadi properti, melainkan aktor utama yang bergerak dengan presisi, menyesuaikan ritme langkah, dan menampilkan ekspresi visual yang disengaja.
CEO Galaxy Corporation, Choi Yong-ho, menjelaskan bahwa tujuan acara ini adalah membayangkan masa depan di mana robot bukan lagi alat bantu, tapi entitas sosial dengan identitas dan gaya pribadi. “Mode bukan lagi milik manusia semata. Di masa depan, robot akan memilih pakaian mereka sendiri—bukan karena perintah, tapi karena preferensi,” ujar Choi.
Robot-robot yang tampil diduga merupakan produk dari Unitree Robotics, perusahaan robotika asal Tiongkok yang dikenal mengembangkan humanoid berkaki lincah. Namun, yang lebih menarik adalah pengumuman perusahaan: pada akhir tahun ini, Galaxy akan meluncurkan lini pakaian khusus robot bernama MACH33—pakaian yang dirancang untuk tubuh mesin, bukan manusia.
Peragaan ini menjadi bukti nyata bahwa revolusi AI tidak hanya menyentuh industri otomotif, medis, atau logistik. Kini, ia merambah ranah kreatif yang paling subjektif: estetika. Di tengah tren avatar digital dan desain berbasis algoritma, dunia mode bergerak menuju sebuah pertanyaan mendasar: jika robot bisa merasakan gaya, apakah ia juga bisa menjadi ikon?
Dengan langkah pertama ini, Seoul bukan lagi hanya pusat teknologi—ia menjadi panggung pertama dari fashion masa depan, di mana manusia dan mesin berjalan beriringan, bukan sebagai lawan, tapi sebagai rekan.















