Sumbawanews.com,- Jenazah Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu, mantan Menteri Pertahanan Republik Indonesia, tiba di rumah duka di Perumahan Puri Wira Bhakti 1/1B, Cikeas, Bogor, pada Minggu, 31 Mei 2026, sekitar pukul 16.56 WIB. Peti jenazah yang ditutupi kain merah putih dibawa keluar dari mobil jenazah dengan penuh kehormatan, digotong oleh sejumlah prajurit dan kerabat yang mata berkaca-kaca. Di sekitarnya, suara lantunan tasbih “Lailahailallah” terdengar pelan, mengiringi langkah-langkah yang berat.
Ryamizard meninggal dunia pada pukul 14.03 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, setelah menjalani perawatan intensif di ruang Cardiac Intensive Care Unit (CICU). Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Kolonel Arm Rico Ricardo Sirait, membenarkan kepergian sosok yang dikenal tegas dan berdedikasi tinggi itu.
Kehilangan Ryamizard bukan sekadar duka keluarga, tapi juga duka bangsa. Sebagai salah satu tokoh militer paling berpengaruh di era pasca-Reformasi, ia pernah memimpin TNI Angkatan Darat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) sebelum menjabat sebagai Menhan pada periode 2014–2019. Karier militernya yang panjang, diwarnai komitmen terhadap profesionalisme dan integritas, membuatnya dihormati di berbagai lapisan masyarakat.
Di rumah duka, suasana hening terasa begitu kental. Para tamu mulai berdatangan—rekan sejawat, mantan bawahan, hingga warga sekitar—semua datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Peti jenazah diletakkan di pelataran depan rumah, di bawah langit yang mendung, seolah alam turut berduka.
Ryamizard Ryacudu meninggalkan warisan tak hanya dalam bentuk kebijakan pertahanan nasional, tapi juga teladan keteguhan prinsip, kesederhanaan, dan cinta tanah air yang tak pernah pudar. Ia bukan sekadar jenderal—ia adalah simbol kesetiaan yang tak tergoyahkan.















