Home Berita Internasional Prancis Terbakar Panas, 40 Jiwa Meregang Nyawa

Prancis Terbakar Panas, 40 Jiwa Meregang Nyawa

Sumbawanews.com,- Gelombang panas ekstrem melanda Prancis dengan keganasan yang belum pernah terjadi dalam beberapa dekade. Suhu udara mencapai 40 derajat Celsius di sejumlah wilayah, memaksa masyarakat bertahan di dalam rumah sambil menghadapi malam tanpa hawa sejuk—momen paling mematikan dalam sejarah cuaca modern negara itu.

Menurut data dari Meteo France, suhu tertinggi tercatat pada Senin hingga Selasa, 22–23 Juni 2026, dengan sebagian besar wilayah terpapar panas berkelanjutan selama lebih dari 72 jam. Malam hari pun tak memberi respite: suhu tetap di atas 25 derajat Celsius, membuat jutaan warga bangun dalam keadaan kelelahan ekstrem dan dehidrasi.

Perdana Menteri Sébastien Lecornu mengonfirmasi 40 orang meninggal akibat gelombang panas sejak 18 Juni, sebagian besar di antaranya adalah kaum muda—kelompok yang biasanya dianggap lebih tahan terhadap cuaca ekstrem. Kematian ini menjadi peringatan keras: bahkan tubuh yang sehat pun tak kebal terhadap tekanan termal yang berkelanjutan.

Gelombang panas ini memicu respons nasional yang belum pernah terjadi. Sekolah ditutup, layanan kereta api terganggu, dan acara publik dibatalkan. Di Paris, layar raksasa di menara Eiffel mengumumkan penutupan dini sebagai bentuk kewaspadaan. Lebih dari 54 dari 101 departemen di Prancis dinyatakan dalam status peringatan merah—setengah dari seluruh wilayah negara itu.

Kondisi ini memicu perbandingan dengan gelombang panas mematikan pada Agustus 2003 yang menewaskan 15.000 orang, sebagian besar lansia tanpa akses pendingin ruangan. Kini, meski teknologi lebih maju, Prancis tetap menjadi salah satu negara Eropa dengan tingkat pemasangan AC terendah—karena budaya dan kebijakan yang enggan mengadopsi pendingin sebagai kebutuhan dasar.

Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa menyatakan bahwa Eropa kini menjadi benua yang mengalami pemanasan tercepat di dunia, dengan laju suhu dua kali lebih tinggi dari rata-rata global sejak 1980-an. Dalam empat tahun terakhir, lebih dari 200.000 orang di seluruh Eropa meninggal akibat dampak langsung panas ekstrem.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa kejadian seperti ini bukan lagi anomali, melainkan “normal baru” akibat perubahan iklim. Pemerintah Prancis mulai mengaktifkan sistem peringatan dini berbasis warna, namun banyak ahli menilai langkah itu terlambat. “Kita tidak lagi menghadapi cuaca buruk. Kita menghadapi krisis sistemik,” ujar seorang ahli iklim dari Universitas Sorbonne.

Dengan musim panas baru saja dimulai, para ahli memprediksi gelombang panas ini belum mencapai puncaknya. Ancaman nyata bukan hanya pada angka kematian, tapi pada kerentanan struktural masyarakat yang belum siap menghadapi dunia yang semakin panas.

Previous articleRonaldo: Kemenangan Tim Lebih dari Rekor
Next articleDua Calon Manajer Kopdes Meninggal Saat Latihan Militer
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik