Sumbawanews.com,- Prancis dan Spanyol menjadi sorotan dunia setelah gelombang panas ekstrem merenggut nyawa dua anak kecil di Prancis dan memaksa puluhan juta orang menghadapi kondisi cuaca yang nyaris tak tertahankan. Kedua anak, yang belum diidentifikasi namanya, ditemukan tak bernyawa dalam mobil yang terparkir di Carpentras, wilayah selatan Prancis, pada Senin (22/6). Petugas darurat mendapati mereka dalam kondisi henti jantung setelah menerima laporan pukul 13.20 waktu setempat. Ibu mereka, yang juga berada di lokasi, segera mendapat pertolongan medis sebelum menjalani pemeriksaan oleh otoritas setempat. Otoritas menyatakan kemungkinan besar kematian itu akibat paparan suhu ekstrem yang melanda wilayah itu.
Gelombang panas ini bukan sekadar ketidaknyamanan — ia adalah bencana kesehatan publik. Di Prancis, lebih dari 1.350 sekolah ditutup, sementara Badan Meteorologi Nasional, Meteo-France, mencatat suhu rata-rata harian mencapai 29,2 derajat Celsius, melewati rekor sebelumnya yang tercatat pada 30 Juni 2025. Peringatan tertinggi untuk gelombang panas diperluas ke lebih dari setengah departemen di negara itu, memengaruhi sekitar 39 juta jiwa. Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu menggelar pertemuan darurat untuk merespons krisis ini, dengan fokus pada perlindungan kelompok rentan: lansia, anak-anak, dan mereka yang tidak memiliki akses ke pendingin ruangan.
Di Spanyol, situasi tak kalah memprihatinkan. Suhu di beberapa wilayah, termasuk Cordoba, menyentuh 40 derajat Celsius, membuat jalan-jalan pusat kota sepi dan warga berlindung di bawah payung, menikmati es krim, atau menghindari aktivitas di luar ruangan. Pemerintah kota mendirikan “tempat perlindungan iklim” di balai kota — ruang yang menyediakan air, makanan, dan fasilitas kebersihan bagi tunawisma dan warga rentan, buka dari siang hingga pukul 20.00. Camilo, seorang tunawisma yang memanfaatkan fasilitas itu, menggambarkan kondisinya sebagai “sangat berat, benar-benar berat.” “Tanpa mandi, tanpa makanan, panas di luar menyengat,” katanya kepada TeleMadrid.
Dokter asal Meksiko, Clarisa Arismendi, yang sedang berada di Spanyol, menyebut cuaca saat ini “benar-benar sangat buruk.” Ucapannya mencerminkan kepanikan yang menyebar di kalangan penduduk lokal maupun turis.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa gelombang panas seperti ini bukan kejadian acak — ia adalah tanda nyata dari pemanasan global yang semakin menggila. Frekuensi, durasi, dan intensitasnya terus meningkat, dan tren ini diprediksi akan memburuk dalam dekade mendatang. Eropa, yang sebelumnya dianggap sebagai wilayah beriklim moderat, kini menjadi front terdepan dalam perang melawan krisis iklim.
Kematian dua anak di mobil itu bukan hanya tragedi personal — ia adalah lonceng peringatan yang menggema di seluruh benua. Di tengah suhu yang terus menembus rekor, pertanyaannya bukan lagi apakah gelombang panas akan datang lagi, tapi bagaimana masyarakat bisa bertahan ketika “neraka” menjadi musim baru.















