Sumbawanews.com,- Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengubah dua jenis limbah yang selama ini menjadi beban lingkungan—pelepah kelapa sawit dan sampah polistirena (styrofoam)—menjadi minyak pirolisis berkualitas tinggi, yang mampu meningkatkan efisiensi dan mengurangi emisi bahan bakar kapal konvensional. Temuan ini bukan sekadar inovasi teknologi, tapi langkah strategis dalam menjawab dua krisis sekaligus: polusi laut dan tumpukan sampah yang tak terkelola.
Selama ini, armada kapal pengangkut barang internasional masih mengandalkan high sulfur fuel oil (HSFO), bahan bakar berat yang mengandung sulfur tinggi dan menjadi penyumbang utama emisi oksida belerang di laut. Di Indonesia, di sisi lain, perkebunan sawit menghasilkan tonase pelepah yang melimpah—sering dibakar atau dibiarkan membusuk—sambil kota-kota besar terus menghasilkan sampah plastik styrofoam yang sulit terurai dan mencemari sungai serta laut.
Melalui proses pirolisis—pemanasan bahan organik dan plastik tanpa oksigen—tim peneliti BRIN berhasil mengubah campuran limbah ini menjadi minyak cair dengan rendemen lebih dari 56 persen. Minyak hasil pirolisis ini kemudian dicampurkan dengan HSFO konvensional, dan hasilnya mengejutkan: viskositas bahan bakar turun signifikan, sehingga tidak perlu dipanaskan berlebihan sebelum digunakan di mesin kapal. Ini berarti penghematan energi dan biaya operasional yang besar bagi pelaku pelayaran.
Lebih penting lagi, kandungan sulfur dalam campuran bahan bakar baru ini menurun drastis. Dengan demikian, emisi sulfur oksida—penyebab hujan asam dan kerusakan ekosistem laut—juga berkurang, sesuai standar ketat organisasi pelayaran internasional. “Ini bukan sekadar substitusi bahan bakar, tapi pembenahan kualitas bahan bakar yang sudah ada,” ujar Dieni Mansur, peneliti Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN.
Keunggulan utama solusi ini terletak pada kesederhanaannya. Berbeda dengan teknologi bahan bakar masa depan seperti hidrogen atau amonia yang memerlukan infrastruktur baru dan investasi miliaran rupiah, campuran ini bisa langsung diaplikasikan pada sistem mesin kapal yang sudah ada, tanpa modifikasi besar. Artinya, adopsinya bisa cepat, murah, dan masif.
Riset ini membuka jalan baru dalam ekonomi sirkular: limbah yang selama ini dianggap tak bernilai, kini berubah menjadi energi bersih. Dengan pendekatan ini, Indonesia tidak hanya bisa mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor, tapi juga menjadi contoh bagaimana negara berkembang bisa mengatasi masalah lingkungan sekaligus mendorong transisi energi yang adil dan realistis.
“Solusi energi masa depan tidak selalu harus datang dari sumber baru,” kata Dieni. “Kadang, ia sudah ada di sekitar kita—hanya perlu cara pandang yang tepat untuk mengubahnya.”















