Sumbawanews.com,- Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebanyak 39 persen wilayah Jawa Barat telah memasuki fase kemarau, dengan sejumlah daerah mengalami periode tanpa hujan hingga 25 hari berturut-turut. Data dari Stasiun Klimatologi Jawa Barat pada dasarian pertama Juni 2026 menunjukkan adanya 16 zona musim kering, terutama terkonsentrasi di pesisir utara (pantura) dan wilayah dataran rendah.
Wilayah yang paling terdampak mencakup Kota Depok, Kota dan Kabupaten Bekasi, Karawang, bagian timur Kabupaten Bogor, Purwakarta utara, Indramayu, Cirebon, serta sebagian besar Kabupaten Bandung, Tasikmalaya, Ciamis selatan, dan Pangandaran utara. Di Kabupaten Cirebon, tepatnya di Kecamatan Karang Kendal, catatan hari tanpa hujan mencapai 25 hari—rekor terpanjang sejauh ini.
BMKG memprediksi bahwa pada dasarian kedua Juni (11–20 Juni 2026), 98 persen wilayah Jawa Barat akan mengalami curah hujan rendah. Fenomena El Nino yang masih berlangsung menjadi salah satu pemicu utama penurunan curah hujan. Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) mencatat suhu permukaan laut di Samudra Pasifik barat Ekuador dan Peru berada di kisaran +0,8 hingga +0,81 derajat Celsius—nilai yang cukup signifikan untuk mengganggu pola hujan di Indonesia.
Meski demikian, tidak semua wilayah mengalami kekeringan total. Beberapa daerah, terutama di pegunungan dan wilayah selatan, masih mengalami hujan lokal akibat labilitas atmosfer yang bervariasi dari ringan hingga kuat. Kondisi ini memicu pertumbuhan awan konvektif, terutama pada sore hingga malam hari. BMKG juga memperingatkan potensi hujan sedang disertai petir dan angin kencang pada skala lokal, terutama di Kabupaten dan Kota Bogor, Depok, Sukabumi, Bandung, dan Garut pada Senin, 15 Juni, serta di Bogor dan Sukabumi pada Rabu, 17 Juni.
Prakirawan BMKG, Alita Nuraeni, menegaskan bahwa meskipun tren umum menunjukkan penurunan curah hujan, tidak ada indikasi hujan lebat terjadi selama seminggu terakhir (7–13 Juni). Suhu muka laut yang masih hangat di perairan sekitar Indonesia, ditambah kelembapan udara yang relatif tinggi, tetap memberikan pasokan uap air yang memungkinkan terjadinya hujan lokal, meski bersifat sementara dan terbatas.
Kondisi ini menjadi peringatan serius bagi sektor pertanian, ketersediaan air bersih, dan kesiapsiagaan bencana kekeringan. Pemerintah daerah diminta segera mengaktifkan mekanisme tanggap darurat, terutama di wilayah-wilayah yang telah memasuki fase kritis. BMKG terus memantau perkembangan iklim secara real-time dan akan memberikan update harian untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data.

















