Sumbawanews.com,- Israel mengklaim telah menewaskan Mohammed Odeh, pemimpin tertinggi sayap militer Hamas di Gaza, dalam serangan udara di kawasan utara Jalur Gaza. Kematian Odeh terjadi sehari sebelum pengumuman resmi, pada Selasa malam, saat serangan melanda lingkungan Remal di Gaza City—sebuah kawasan ramai yang sedang bersiap menyambut Hari Raya Idul Fitri.
Kementerian Pertahanan Israel, melalui Menteri Israel Katz, menyatakan Odeh sebagai “komandan nomor empat organisasi teroris Hamas di Gaza” yang telah “dihapuskan” dan “dikirim bertemu rekan-rekannya di neraka.” Pernyataan serupa dikeluarkan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang menegaskan bahwa serangan itu merupakan hasil pemantauan intelijen berbulan-bulan untuk melacak pergerakan Odeh dan jaringannya.
Odeh, yang sebelumnya menjabat sebagai kepala intelijen Hamas, dikabarkan menggantikan Izz al-Din al-Haddad sebagai pimpinan Al-Qassam Brigades setelah al-Haddad tewas dalam serangan Israel awal bulan ini. Namun, Hamas belum secara resmi mengonfirmasi peralihan kepemimpinan tersebut.
Menurut sumber di Rumah Sakit al-Shifa, serangan itu menewaskan enam orang dan melukai dua puluh lainnya. Jurnalis Al Jazeera Hind Khoudary, yang melaporkan langsung dari lokasi, menggambarkan pemandangan kehancuran yang mengerikan: “Tiga ledakan besar mengguncang pusat Remal, di tengah keramaian pasar—keluarga-keluarga sedang berbelanja, menyiapkan kebutuhan Idul Fitri, ketika udara tiba-tiba pecah oleh bom.”
Militer Israel menuduh Odeh sebagai salah satu arsitek utama serangan 7 Oktober 2023, yang memicu perang berkepanjangan di Gaza. Dalam pernyataannya, militer menyebut Odeh sebagai salah satu dari sedikit pemimpin senior Hamas yang terlibat langsung dalam perencanaan dan eksekusi serangan itu, sekaligus mengkoordinasi operasi tempur melawan pasukan Israel sejak saat itu.
Sejak dimulainya perang, Israel telah menewaskan sejumlah tokoh kunci Hamas, termasuk Yahya Sinwar, Mohammed Deif, dan Ismail Haniyeh. Kematian Odeh menandai salah satu pembunuhan paling signifikan sejak gencatan senjata sementara yang diberlakukan pada 11 Oktober 2023. Namun, gencatan senjata itu kini semakin rapuh: menurut Kementerian Kesehatan Gaza, setidaknya 906 warga Palestina telah tewas sejak gencatan senjata berlaku, dengan total korban jiwa sejak 7 Oktober 2023 mencapai 72.803 orang.
Sementara itu, tidak ada respons resmi dari Hamas terkait kematian Odeh. Namun, di jalanan Gaza, kehilangan seorang pemimpin militer sekaliber Odeh diprediksi akan memperdalam rasa duka dan kemarahan di tengah masyarakat yang sudah lelah, sambil menanti apakah serangan Israel akan berlanjut—atau justru memicu balasan yang lebih ganas.















