Sumbawanews.com,- Militer Israel mengklaim telah menghilangkan Mohammed Awda, calon komandan baru sayap bersenjata Hamas, dalam serangan udara di Gaza Utara pada Rabu (27/5/2026). Klaim ini disampaikan sehari setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel mengonfirmasi bahwa Awda menjadi target utama operasi militer di pusat Kota Gaza, seperti dilansir Anadolu Agency.
Awda, yang dikabarkan dipilih sebagai pengganti pemimpin Hamas yang tewas dalam serangan sebelumnya, dianggap oleh Israel sebagai sosok kunci dalam reorganisasi struktur komando kelompok tersebut. Namun, hingga kini, Hamas maupun Brigade Qassam belum memberikan respons resmi atas kematian Awda.
Serangan ini terjadi di tengah gelombang serangan udara intensif yang menghantam kawasan padat penduduk di Gaza, tepat menjelang Idul Adha. Sumber medis Palestina melaporkan, satu perempuan tewas dan sejumlah warga lainnya terluka dalam serangan tersebut, menambah daftar korban sipil yang terus bertambah dalam konflik berkepanjangan sejak Oktober 2023.
Data resmi menunjukkan, lebih dari 72.000 orang tewas dan lebih dari 172.000 lainnya terluka sejak perang meletus. Sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Gaza—termasuk rumah sakit, sekolah, dan jaringan air—telah hancur atau rusak parah, meskipun gencatan senjata sempat diumumkan pada Oktober 2025.
Klaim Israel muncul di tengah tekanan politik domestik yang semakin memanas terhadap Netanyahu. Sejumlah analis dan tokoh oposisi memperingatkan bahwa pemerintah Israel kemungkinan memanfaatkan eskalasi militer sebagai strategi untuk mengalihkan perhatian publik menjelang kemungkinan pembubaran Knesset dan pemilu dini. Dalam konteks ini, pembunuhan Awda bukan sekadar operasi militer, tapi juga bisa menjadi langkah politik yang dihitung secara strategis.
Sementara itu, dunia internasional terus memantau perkembangan di Gaza, dengan sejumlah negara Eropa, termasuk Prancis, mengancam akan mengajukan gugatan hukum terhadap Israel atas dugaan pelanggaran hukum humaniter. Sementara Iran dan Turki kembali mengecam serangan itu sebagai “kejahatan terhadap kemanusiaan.”
Di tengah reruntuhan dan suara takbir yang terdengar samar di antara puing-puing, warga Gaza tetap melaksanakan salat Idul Adha—sebuah simbol ketahanan yang tak tergoyahkan, meski kehidupan mereka terus dibayangi oleh kehancuran dan ketidakpastian.















