Sumbawanews.com,- Pada Senin, 6 Juli 2026, Hamas mengumumkan pembubaran pemerintahannya di Gaza dan siap menyerahkan kendali kepada komite teknis yang didukung PBB, sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat. Keputusan ini diumumkan oleh Direktur Jenderal Kantor Media Pemerintah Hamas, Ismail al-Thawabta, dalam konferensi pers di Rumah Sakit Al-Aqsa, Deir al-Balah. Ia menegaskan bahwa hanya staf teknis dan profesional yang akan tetap bertugas menjalankan layanan dasar di bawah Komite Nasional untuk Administrasi Gaza. Namun, Hamas tidak menyatakan akan melucuti senjata atau menyerahkan urusan keamanan kepada pasukan internasional.
Dewan Perdamaian yang dipimpin Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan telah mengetahui pengumuman tersebut, tetapi menekankan bahwa penilaian akan didasarkan pada “tindakan, bukan janji.” Dewan itu menuntut komite teknokrat mengendalikan seluruh senjata di Gaza sesuai kesepakatan gencatan senjata. Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar meragukan niat baik Hamas, menyatakan bahwa pemerintahan sipil apa pun tetap akan tunduk pada arahan Hamas selama kelompok itu masih memegang senjata.
Komite teknokrat yang berbasis di Kairo dipimpin oleh Ali Shaath, insinyur kelahiran Gaza dan mantan pejabat Otoritas Palestina. Shaath menekankan bahwa efektivitas komite bergantung pada adanya satu otoritas pemerintahan yang beroperasi di bawah kerangka hukum dan aparat keamanan terpadu. Sembilan bulan setelah gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, perundingan antara Israel dan Hamas masih terhenti di tahap kedua, terutama terkait pelucutan senjata Hamas dan rekonstruksi Gaza. Hamas bersikeras bahwa tahap pertama harus sepenuhnya diterapkan sebelum pembahasan senjata dimulai.
Serangan Israel masih terjadi hampir setiap hari, meski intensitasnya berkurang sejak gencatan senjata. Pada Senin yang sama, serangan Israel menewaskan lima orang di Gaza, termasuk tiga di Khan Younis dan dua di sebuah apartemen di Kota Gaza. Militer Israel menyatakan menargetkan anggota Hamas dan militan dari Jihad Islam Palestina dalam serangan tersebut. Konflik yang dimulai dengan serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 telah menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel dan 251 orang disandera, sementara serangan balasan Israel menewaskan sedikitnya 73.098 warga Palestina.















