
Sumbawanews.com,- Jakarta – Pemilu presiden Kolombia memasuki putaran kedua setelah hasil putaran pertama pada Senin (1/6/2026) memperlihatkan selisih tipis antara dua kandidat utama, Abelardo de la Espriella dan Ivan Cepeda. Kedua belah pihak saling menuding kecurangan, memperdalam ketegangan politik di negara yang tengah terbelah secara ideologis.
De la Espriella, kandidat sayap kanan yang didukung oleh partai konservatif, merayakan keunggulan sementara berdasarkan hitung cepat resmi, menyatakan bahwa rakyat telah memilih “keamanan dan stabilitas”. Sementara itu, Cepeda, senator kiri yang dikenal sebagai juru bicara korban kekerasan bersenjata dan mantan aktivis HAM, menuntut verifikasi penuh terhadap seluruh suara, menuduh adanya manipulasi teknis dalam sistem pemungutan suara elektronik.
Kedua kandidat sama-sama mengklaim mendapat dukungan luas dari pemilih muda, pedesaan, dan kelompok marginal—tapi dengan narasi yang bertolak belakang. De la Espriella menjanjikan penegakan hukum ketat terhadap kelompok bersenjata dan pemulihan ekonomi melalui investasi asing, sementara Cepeda menyerukan reformasi sosial, redistribusi kekayaan, dan perjanjian damai baru dengan kelompok pemberontak yang masih aktif.
Komisi Pemilihan Nasional Kolombia (CNE) memastikan bahwa proses pemungutan suara berjalan secara umum tertib, meski ada laporan terpisah tentang gangguan teknis di beberapa daerah terpencil. Namun, kekhawatiran akan kecurangan telah memicu aksi protes damai di ibu kota Bogotá dan kota-kota besar lainnya, dengan ribuan pendukung Cepeda berkumpul di alun-alun kota menuntut transparansi.
Pemantau internasional dari Uni Eropa dan OAS (Organisasi Negara-Negara Amerika) telah mengerahkan tim pengamat di seluruh wilayah, menegaskan bahwa putaran kedua pada 21 Juni mendatang akan menjadi ujian kritis bagi demokrasi Kolombia—bukan hanya dalam hal keabsahan hasil, tetapi juga kemampuan negara untuk menjaga perdamaian sosial di tengah polarisasi yang semakin dalam.
Dengan lebih dari 38 juta pemilih berhak memilih, dan tingkat partisipasi mencapai 61 persen—angka tertinggi dalam dua dekade—putaran kedua diprediksi akan menjadi pertarungan sengit yang menentukan arah masa depan negara Andes itu selama lima tahun ke depan.














