Sumbawanews.com,- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan perebutan Kastil Beaufort di Lebanon selatan sebagai titik balik strategis dalam operasi militer melawan Hizbullah. Dalam pernyataan video yang dirilis Senin (1/6), ia menyebut penguasaan benteng bersejarah berusia 900 tahun itu sebagai penghancuran “tembok ketakutan” yang selama ini melindungi kelompok bersenjata itu dari serangan langsung Israel.
Pasukan Israel berhasil menduduki Kastil Beaufort dan punggung bukit strategis di sekitarnya pada Minggu (31/5), setelah serangan darat yang intensif. Operasi ini tidak hanya menandai kemajuan terbesar sejak gencatan senjata pertengahan April lalu, tetapi juga memperdalam penetrasi militer Israel ke wilayah Lebanon—bergeser dari Sungai Litani menuju Sungai Zaharani, sejauh 10 kilometer lebih utara.
“Kami kembali ke Beaufort, bukan sebagai penjajah, tetapi sebagai kekuatan yang bersatu, teguh, dan lebih kuat dari sebelumnya,” ujar Netanyahu. Ia menekankan bahwa operasi ini bukan sekadar perebutan wilayah, melainkan perubahan doktrin militer: dari pertahanan pasif menjadi serangan aktif di semua front—Gaza, Suriah, dan kini Lebanon.
Militer Israel menyatakan misi utamanya adalah meruntuhkan infrastruktur Hizbullah yang dibangun di bawah bimbingan Iran. Benteng ini, yang pernah menjadi markas penting kelompok itu selama konflik 2006, kini menjadi simbol kekalahan taktis bagi Hizbullah. Sejak gencatan senjata, kelompok ini terus melancarkan serangan drone kamikaze murah yang sulit ditangkal, menewaskan sejumlah tentara Israel. Namun, respons Tel Aviv kali ini jauh lebih agresif: lebih dari 40 serangan udara dilancarkan dalam satu hari, menargetkan posisi pertahanan, gudang senjata, dan jalur suplai.
Satu tentara Israel tewas dalam operasi ini, sementara delapan warga sipil Lebanon tewas dalam serangan udara terhadap desa Deir El Zahrani pada Sabtu malam, menurut sumber resmi Lebanon. Militer Israel juga mengeluarkan peringatan evakuasi bagi warga di sepanjang Sungai Zaharani, menandai niat untuk memperluas zona kontrol militer.
Netanyahu menegaskan tujuan jangka panjangnya: “Memperdalam dan memperluas kendali kami atas wilayah-wilayah yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Hizbullah.” Pernyataan itu diikuti dengan perintah resmi untuk memperluas manuver darat lebih jauh ke dalam wilayah Lebanon—sebuah langkah yang memperdalam krisis regional dan mengancam stabilitas gencatan senjata yang rapuh.
Dengan penguasaan Beaufort, Israel tidak hanya merebut tanah, tetapi juga menggoyang psikologi perlawanan Hizbullah. Bagi Netanyahu, ini bukan sekadar kemenangan militer—ini adalah pesan: ketakutan yang selama ini menjadi tameng kelompok itu, kini telah runtuh.















