Home Berita Internasional Bunia Terisolasi, Ebola Picu Krisis Kesehatan dan Ekonomi

Bunia Terisolasi, Ebola Picu Krisis Kesehatan dan Ekonomi

Sumbawanews.com,- Pemerintah Republik Demokratik Kongo menghentikan seluruh penerbangan ke dan dari Bunia, ibu kota provinsi Ituri, sebagai langkah darurat untuk menahan penyebaran wabah Ebola yang telah menewaskan lebih dari 220 orang dan menginfeksi 930 kasus sejak dinyatakan pada pertengahan Mei 2026. Keputusan ini diambil oleh Kementerian Transportasi dan Komunikasi, yang melarang total lalu lintas udara di Bandara Bunia—salah satu pintu masuk utama wilayah timur Kongo.

Meski demikian, pemerintah di Kinshasa memberikan pengecualian terbatas untuk penerbangan kemanusiaan, medis, dan darurat, selama mendapat otorisasi khusus dari otoritas penerbangan dan kesehatan. Tujuannya jelas: memastikan aliran bantuan, tenaga medis, dan logistik vital tetap mengalir ke wilayah yang terpapar.

Namun, larangan ini justru memperdalam isolasi Bunia. Negara tetangga Uganda, yang selama ini menjadi jalur utama masuknya barang dan penumpang, juga memberlakukan pembatasan ketat perbatasan. Akibatnya, rantai pasokan yang mengandalkan rute darat dari Kampala terputus. Barang-barang kebutuhan pokok, pakaian, hingga obat-obatan kini sulit masuk. “Saya punya pesanan dari pelanggan, tapi tidak bisa memenuhinya,” keluh Sarah Bitangalo, penjual pakaian di Bunia. “Perbatasan ditutup, dan kami tidak punya pilihan lain.”

Bandara Bunia bukan sekadar fasilitas transportasi—ia adalah tulang punggung ekonomi regional. Menurut UN-Habitat, setengah dari aktivitas ekonomi kota ini bergantung pada sektor jasa: perdagangan, transportasi, dan ritel. Tanpa penerbangan, ribuan ton barang yang biasa didistribusikan lewat udara terhenti. “Ini bukan hanya krisis kesehatan, tapi juga krisis ekonomi yang mengancam,” kata Bernard Bahati, seorang guru dan ayah tiga anak. “Jika tidak ada dukungan, kita akan menghadapi bencana ganda.”

Pengusaha lokal pun merasakan dampaknya. Mitterrand Mweze, yang telah berinvestasi di hotel, bar, dan taman bermain selama dua dekade, menggambarkan situasi ini sebagai “pemutusan hubungan”. “Tanpa penerbangan, investor tidak datang. Pelanggan tidak datang. Kami hanya mengandalkan penduduk lokal, padahal daya beli mereka sudah terkikis,” ujarnya. Ia meminta pemerintah memberikan relaksasi pajak agar usaha kecil tidak bangkrut.

Analisis ekonomi lokal memperkirakan kelangkaan barang akan memicu lonjakan harga. “Ketika pasokan terputus, inflasi tak terhindarkan,” kata Pascal Tudja, seorang analis ekonomi di Bunia. “Kami sedang berada di ambang kehancuran ekonomi yang berbarengan dengan wabah mematikan.”

Wabah ini disebabkan oleh strain Bundibugyo—salah satu dari enam jenis virus Ebola dengan tingkat kematian hingga 50 persen. Sejauh ini, 11 zona kesehatan di Kongo terdampak, dengan fokus utama di provinsi North Kivu, South Kivu, dan Ituri. Respons internasional pun bergulir: lebih dari 500 juta dolar AS telah dijanjikan oleh pemerintah Afrika dan mitra global untuk menangani wabah ini, termasuk di Uganda.

Tapi di Bunia, angka-angka itu belum terasa. Yang dirasakan warga adalah kekosongan di toko-toko, harga yang melambung, dan ketidakpastian yang menggantung. Pemerintah mungkin berharap larangan penerbangan bisa memutus rantai penyebaran virus. Namun, tanpa strategi komprehensif untuk menjaga kelangsungan hidup ekonomi lokal, upaya itu berisiko menggantikan satu bencana dengan yang lain—dengan rakyat menjadi korban pertama.

Previous articleGereja Katedral Berbagi Sapi Kurban dengan Istiqlal
Next article**Istri Bawa Tempe Goreng Jenguk Yaqut di Rutan KPK**
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik