Sumbawanews.com,- Jakarta – Dalam sebuah simbol kebersamaan yang langka, Gereja Katedral Jakarta menyumbangkan seekor sapi kurban untuk disalurkan melalui Masjid Istiqlal pada perayaan Idul Adha 1447 Hijriah. Sumbangan ini menjadi bagian dari rangkaian kebaikan lintas agama yang memperkuat tali persaudaraan di ibu kota.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengungkapkan kekagumannya atas inisiatif tersebut saat usai melaksanakan salat Id di Istiqlal, Rabu (27/5/2026). “Tetangga kita Katedral itu ya, juga menyumbangkan sapinya, besar juga,” katanya, menekankan bahwa sumbangan itu bukan sekadar tindakan sosial, tapi pesan spiritual yang menghormati nilai berbagi dalam setiap keyakinan.
Sapi yang disumbangkan Katedral bergabung dengan puluhan hewan kurban lain dari berbagai kalangan, termasuk sapi berbobot besar dari Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Tak ketinggalan, mantan Presiden Megawati Soekarnoputri juga turut menyumbang seekor sapi, sementara Hotel Borobudur memberikan 25 ekor sapi—jumlah terbesar dari satu lembaga swasta.
Hingga Rabu, Istiqlal telah menerima 63 ekor sapi, 18 kambing, dan satu domba. Penerimaan sumbangan masih dibuka hingga Kamis, 28 Mei, seiring dengan semangat Idul Adha yang menekankan kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan protein hewani.
Nasaruddin menegaskan, dalam ajaran Islam, berkurban adalah ibadah yang dianjurkan, namun nilai berbagi tidak mengenal batas agama. “Siapa pun yang mampu, apapun keyakinannya, jika ikut berbagi, itu adalah bentuk kebaikan yang mulia. Tujuannya sama: meringankan beban masyarakat yang kesulitan.”
Di sisi lain, anggaran kurban presiden yang mencapai Rp100 miliar—dibiayai dari dana bantuan kemasyarakatan APBN—menjadi sorotan. Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro menjelaskan, harga sapi disesuaikan dengan bobot dan lokasi penyaluran, dengan total 1.098 ekor sapi yang disebar ke seluruh wilayah Indonesia.
Kehadiran Gereja Katedral dalam perayaan ini bukanlah hal pertama, tapi tetap menjadi momen yang menggetarkan. Di tengah dinamika sosial yang sering mempertajam perbedaan, sumbangan ini menjadi bukti nyata bahwa kebaikan bisa lahir dari ruang yang paling tak terduga—dari satu agama, untuk umat lain, dalam satu kota yang sama.















