Sumbawanews.com,- Manila — Sebuah gedung sembilan lantai yang masih dalam tahap konstruksi runtuh secara mendadak di Kota Angeles, Filipina, pada 24 Mei 2026, menewaskan sedikitnya 21 orang, termasuk seorang bayi. Operasi pencarian dan penyelamatan terus berlangsung hingga hari ini, dengan alat berat digunakan untuk membersihkan puing-puing dan mencari korban yang masih terperangkap di bawah reruntuhan.
Gedung yang awalnya direncanakan sebagai hotel itu diduga telah melebihi izin pembangunan. Otoritas setempat mengungkapkan, izin resmi hanya mencakup sembilan lantai, namun kontraktor membangun kolam renang di lantai kesepuluh yang tidak diizinkan—sebuah pelanggaran struktural yang diduga menjadi salah satu penyebab kegagalan daya dukung bangunan.
Sebelumnya, pihak berwenang memperkirakan antara 30 hingga 40 orang terjebak di dalam reruntuhan. Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah korban tewas terus bertambah, sementara sebagian besar korban yang ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa. Tim penyelamat masih berjuang melawan waktu, mengingat struktur puing yang tidak stabil dan cuaca panas yang memperparah kondisi di lokasi.
Pemerintah kota Angeles telah membuka penyelidikan resmi terhadap pemilik proyek, kontraktor, dan inspektur bangunan. Jaksa setempat menyatakan akan mengejar tanggung jawab hukum terhadap siapa pun yang terbukti mengabaikan standar keselamatan atau memalsukan dokumen teknis.
Insiden ini memicu kemarahan publik di Filipina, di mana bangunan ambruk akibat kelalaian konstruksi bukanlah hal baru. Dalam beberapa dekade terakhir, puluhan kejadian serupa telah terjadi, sering kali menewaskan ratusan orang—terutama di kawasan padat penduduk dengan pengawasan regulasi yang lemah.
Korban terkecil, seorang bayi yang ditemukan dalam pelukan ibunya, menjadi simbol duka yang menyayat hati. Warga setempat berbondong-bondong membawa makanan, air, dan doa ke lokasi kejadian, sementara para relawan dari organisasi kemanusiaan berdatangan untuk membantu tim penyelamat.
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. menyatakan duka mendalam dan menjanjikan reformasi ketat terhadap pengawasan konstruksi. “Kita tidak bisa lagi mengabaikan nyawa manusia demi keuntungan cepat,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Sementara itu, keluarga korban terus menunggu di luar pagar lokasi kejadian, tangan mereka memegang foto-foto orang yang dicintai—berharap, sekaligus takut, bahwa mungkin masih ada yang tersisa untuk diselamatkan.















