Sumbawanews.com,- Juni 2026 menjadi momen langka bagi pengamat langit di Indonesia, ketika tiga planet terang—Merkurius, Venus, dan Jupiter—berbaris rapi di ufuk barat setelah Matahari terbenam. Fenomena ini, yang jarang terjadi dalam satu bulan, memungkinkan mata telanjang menangkap keindahan tata surya tanpa bantuan teleskop.
Menurut Avivah Yamani, pegiat astronomi dari Komunitas Langit Selatan di Bandung, Merkurius—planet paling dekat dengan Matahari yang biasanya sulit terlihat—akan mencapai puncak visibilitasnya pada pertengahan Juni. Di awal bulan, planet ini muncul sangat rendah di cakrawala barat, perlahan naik hingga mencapai ketinggian maksimal sekitar 15 Juni, lalu kembali menghilang di balik cahaya senja yang semakin pekat.
Di atas Merkurius, Venus bersinar terang seperti bintang paling terang di langit senja. Pada 7 Juni, Venus berdekatan dengan bintang Pollux di rasi Gemini, menciptakan konfigurasi yang memukau bagi yang mengamati dengan cermat. Sementara itu, Jupiter, meski lebih redup dari Venus, tetap menjadi titik cahaya yang jelas di atasnya, membentuk susunan vertikal yang nyaris sempurna.
Tak hanya itu, Bulan turut berperan dalam pesta langit ini. Pada pertengahan Juni, Bulan akan melewati ketiga planet secara berurutan, seolah menjadi penjaga yang mengawal parade kosmik. Pergerakan Bulan yang cepat—dari fase awal hingga purnama pada 30 Juni—menambah dinamika visual yang tak bisa dilewatkan.
Di sisi lain, planet-planet lain juga menawarkan pesona tersendiri. Saturnus, yang masih tinggi di langit fajar, bisa diamati sebelum Matahari terbit, sementara Mars perlahan naik dari ufuk timur, mulai terlihat jelas pada akhir Juni. Keduanya akan berpapasan dengan Bulan dalam beberapa hari berturut-turut: Saturnus pada awal Juni, Mars beberapa hari kemudian. Namun, Uranus dan Neptunus tetap memerlukan teleskop untuk terlihat, mengingat kecerahannya yang terlalu redup bagi mata telanjang.
Puncak astronomi Juni datang pada 21 Juni, saat Matahari mencapai titik balik utara—solstis musim panas di belahan Bumi utara dan musim dingin di belahan selatan. Bagi penduduk Indonesia, yang berada di khatulistiwa, peristiwa ini berarti malam dan siang hampir seimbang, meski secara teknis siang sedikit lebih panjang. Fenomena ini bukan hanya tanda pergantian musim, tapi juga pengingat akan keseimbangan alam semesta yang tak tergoyahkan.
Bagi yang ingin menyaksikan parade ini, waktu terbaik adalah 30–45 menit setelah Matahari tenggelam, di lokasi dengan pandangan bebas ke arah barat. Hindari gedung tinggi atau pohon rindang. Gunakan aplikasi astronomi seperti Stellarium atau SkySafari untuk memandu posisi tepat planet-planet tersebut.
Dengan cuaca yang relatif cerah di sebagian besar wilayah Indonesia, Juni 2026 menjadi kesempatan emas untuk mengangkat pandangan ke langit—bukan hanya untuk melihat, tapi untuk merenung: betapa kecilnya kita di tengah hamparan kosmos yang begitu megah.















