Sumbawanews.com,- Amerika Serikat sedang mengevaluasi rencana memindahkan sebagian pusat komando militer di Timur Tengah ke fasilitas bawah tanah, menyusul serangan rudal dan drone Iran yang merusak signifikan pangkalan Naval Support Activity Bahrain. Langkah ini meniru strategi bertahan yang telah lama diterapkan Iran untuk melindungi infrastruktur militernya dari serangan udara. Pernyataan terbuka oleh Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao mengakui kerusakan parah akibat serangan yang dimulai sejak 28 Februari 2026, meskipun operasi Armada Kelima tetap berjalan. Kerusakan mencakup pusat komando, bangunan pendukung, dan terminal komunikasi satelit, dengan perkiraan biaya pemulihan mencapai 400 juta dolar AS.
Serangan berulang oleh Iran terhadap pangkalan di Manama itu memicu pertanyaan mendasar di Pentagon mengenai kerentanan pangkalan permanen yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung kehadiran militer AS di Teluk. Selain membangun markas bawah tanah, opsi lain yang dipertimbangkan meliputi pembagian kemampuan operasional ke beberapa lokasi terpisah dan mengurangi ketergantungan pada satu basis utama. The Wall Street Journal melaporkan bahwa pejabat pertahanan AS kini tengah mengkaji perubahan strategis besar, termasuk tidak membangun kembali sebagian struktur yang hancur. Tidak ada laporan korban jiwa AS dari serangan awal, namun kerusakan infrastruktur cukup menggugah kekhawatiran akan keberlanjutan model pangkalan konvensional di kawasan yang semakin berbahaya.















