Home Berita Internasional AS dan Iran Bentuk Tim Khusus Hentikan Perang Israel-Hizbullah di Lebanon

AS dan Iran Bentuk Tim Khusus Hentikan Perang Israel-Hizbullah di Lebanon

Sumbawanews.com,- Jakarta – Amerika Serikat dan Iran, dua kekuatan yang selama ini saling bertentangan, kini diberitakan bekerja sama dalam upaya mendesakkan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah di Lebanon. Kedua negara membentuk unit khusus yang bertugas memediasi komunikasi langsung antara pihak-pihak yang terlibat konflik, demi mencegah eskalasi perang yang bisa meluas ke seluruh wilayah Timur Tengah.

Menurut sumber diplomatik yang dikonfirmasi oleh beberapa pejabat senior di Washington dan Teheran, tim gabungan ini beroperasi secara rahasia sejak awal Agustus 2023. Unit tersebut terdiri dari perwakilan militer dan intelijen dari kedua negara, serta didukung oleh perantara dari negara-negara netral seperti Oman dan Qatar. Tujuannya jelas: menghentikan serangan balasan berantai yang telah menewaskan puluhan warga sipil dan merusak infrastruktur penting di perbatasan Lebanon-Israel.

Meskipun tidak ada pernyataan resmi dari pemerintah AS atau Iran, sejumlah pejabat yang meminta anonimitas mengatakan bahwa komunikasi langsung antara Washington dan Teheran telah kembali aktif setelah hampir empat tahun terhenti. Dalam pertemuan tertutup di Oman, para perwakilan kedua negara sepakat bahwa konflik di Lebanon tidak boleh menjadi pintu masuk perang besar antara Israel dan Iran—yang secara tidak langsung mendukung Hizbullah.

Pertemuan ini terjadi di tengah meningkatnya serangan roket dari Hizbullah ke wilayah utara Israel, yang direspons dengan serangan udara intensif oleh Angkatan Udara Israel. Kedua belah pihak saling menyalahkan, tetapi keduanya juga tampak enggan memicu perang total. Di sisi lain, Israel menolak mengakui adanya peran Iran dalam konflik ini, sementara Teheran tetap bersikeras bahwa Hizbullah adalah gerakan perlawanan independen, bukan agen resmi Iran.

Namun, fakta bahwa AS dan Iran bersedia duduk bersama—meski tanpa publikasi—menunjukkan bahwa ancaman perang regional telah mencapai titik kritis. Para analis keamanan memperingatkan bahwa jika gencatan senjata gagal, konflik ini bisa menyeret kekuatan regional lain seperti Suriah, Yordania, dan bahkan Turki ke dalam pusaran kekerasan.

Diplomasi rahasia ini juga datang tepat ketika Presiden AS Joe Biden dan Presiden Iran Ebrahim Raisi sama-sama menghadapi tekanan domestik yang meningkat. Di Washington, tekanan dari kongres untuk menghindari keterlibatan militer baru semakin kuat. Di Teheran, pemerintah berusaha menunjukkan bahwa mereka masih mampu memengaruhi dinamika keamanan regional tanpa harus terlibat langsung dalam pertempuran.

Sementara itu, pemerintah Lebanon terus berjuang untuk mempertahankan netralitasnya. Perdana Menteri Najib Mikati mengatakan bahwa negaranya “tidak ingin menjadi medan perang bagi kepentingan asing,” meskipun kenyataannya, wilayah selatan Lebanon telah menjadi titik api yang tak kunjung padam.

Para pengamat menilai, upaya AS-Iran ini mungkin satu-satunya harapan nyata untuk mencegah kehancuran lebih besar. Namun, keberhasilannya bergantung pada kemampuan kedua kekuatan besar itu untuk tetap berkomitmen—meski tanpa kepercayaan, tanpa publisitas, dan tanpa jaminan bahwa kesepakatan ini akan bertahan lama.

Previous articleThailand Bangkitkan Jalur Darat Pengganti Selat Malaka
Next articleCak Imin: PBNU Periode Ini Paling Mundur dalam Sejarah
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik