Sumbawanews.com,- NASA resmi mengumumkan kru inti misi Artemis III, langkah krusial menuju pendaratan manusia di Bulan setelah lebih dari lima dekade. Empat astronaut dipilih untuk mengawaki misi pengujian berdurasi dua pekan ini, yang akan fokus pada manuver penggabungan wahana di orbit Bumi—latihan vital sebelum misi pendaratan sesungguhnya pada 2027.
Kru inti terdiri dari Andre Douglas, Frank Rubio, Randy Bresnik, dan Luca Parmitano. Mereka akan menguji sistem pendarat Bulan buatan perusahaan swasta—Blue Origin dan SpaceX—dengan cara mendekat dan menyambungkan kapsul Orion di orbit. Meski tidak membawa perempuan, misi ini mencatat sejarah dalam keberagaman: Douglas akan menjadi salah satu dari hanya dua lusin warga Afrika-Amerika yang pernah terbang ke luar angkasa; Rubio, dengan rekor penerbangan terlama AS (371 hari), membawa pengalaman medis dan militer; Bresnik, komandan berusia 58 tahun, adalah satu-satunya yang pernah memimpin Stasiun Luar Angkasa Internasional; sementara Parmitano, astronaut Italia pertama yang pernah memimpin ISS, menjadi wakil pertama Eropa dalam misi berawak ke Bulan.
Administrator NASA Jared Isaacman, yang ditunjuk oleh Presiden Donald Trump dan pernah memimpin penerbangan swasta bersama SpaceX, menegaskan bahwa tim ini adalah “representasi terbaik dari ambisi, keahlian, dan kerja sama global.” Ia menekankan bahwa Artemis III bukan sekadar misi teknis, tapi simbol komitmen AS untuk mempertahankan kepemimpinan di ruang angkasa di tengah persaingan ketat dengan China.
China, yang telah sukses mengambil sampel tanah dari sisi jauh Bulan pada 2024 dan menargetkan pendaratan berawak sebelum 2030, menjadi faktor pendorong utama percepatan program ini. Para pejabat AS secara terbuka menyebut Artemis III sebagai “perlombaan waktu” untuk memastikan Amerika kembali ke Bulan lebih dulu.
Misi ini awalnya direncanakan untuk mendaratkan astronaut di permukaan Bulan, tetapi karena tantangan teknis pada sistem pendarat komersial, NASA memutuskan mengubah fokusnya menjadi uji coba sistem di orbit Bumi. “Kami mengambil risiko terukur di sini agar misi berikutnya bisa berjalan lebih aman,” kata Jeremy Parsons, Asisten Deputi Pelaksana Rekanan untuk Program Moon to Mars NASA. “Ini adalah fondasi. Kita tidak hanya ingin jejak kaki di Bulan—kita ingin rumah di sana.”
Senator Ted Cruz menyambut keputusan ini sebagai “langkah strategis untuk mengamankan dominasi teknologi AS di luar angkasa.” Sementara itu, Kepala Direktorat Misi Sains NASA, Nicola Fox, menekankan bahwa tujuan akhirnya jauh lebih besar: “Artemis III adalah langkah pertama menuju pangkalan permanen di Bulan—bukan sekadar kunjungan, tapi penetapan.”
Dengan peluncuran dijadwalkan sebelum akhir 2027, misi ini bukan hanya ujian teknologi, tapi juga ujian geopolitik. Di tengah kebangkitan China sebagai kekuatan luar angkasa, Artemis III menjadi simbol ambisi AS untuk tidak hanya kembali ke Bulan—tapi memimpin peradaban manusia menuju masa depan di luar Bumi.

















