Sumbawanews.com,- Mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak menuduh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sengaja menyiapkan kondisi untuk memicu perang, dengan tujuan menunda pemilu yang dijadwalkan pada 27 Oktober 2026. Barak menyatakan dalam wawancara dengan Channel 12 bahwa Netanyahu sedang membangun landasan politik melalui eskalasi keamanan, agar pemungutan suara bisa ditunda demi mempertahankan kekuasaannya. Ia menggambarkan Netanyahu sebagai sosok yang berbohong semudah bernapas, makan kentang goreng, atau pergi dari restoran tanpa membayar, dan menegaskan bahwa rakyat harus menggulingkannya pada pemilu mendatang.
Pernyataan Barak muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional, dengan operasi militer Israel masih berlangsung di Jalur Gaza, Lebanon, dan Suriah. Netanyahu sendiri baru-baru ini memperingatkan kemungkinan serangan menjelang pemilu dan menjanjikan balasan “harga sangat mahal” terhadap pihak yang bertanggung jawab atas insiden penerbangan FlyDubai FZ1073 pada 30 September, yang kini menjadi bahan kampanye politik. Lawan-lawannya menilai Netanyahu memanfaatkan isu keamanan untuk memperkuat posisinya di mata publik.
Barak, yang sebelumnya pernah menuduh Netanyahu memanfaatkan ketakutan publik untuk kepentingan elektoral, menekankan bahwa koalisi oposisi kini semakin solid dalam upaya menggantikan pemerintahan Netanyahu. Pemilu mendatang akan menjadi yang pertama sejak serangan 7 Oktober 2023, dan menjadi ujian besar bagi stabilitas politik Israel.















