Sumbawanews.com,- Pada 4 Oktober 1918, Kanselir Jerman Max von Baden mengirimkan pesan telegraf kepada Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson di Washington D.C., meminta gencatan senjata antara Jerman dan Sekutu dalam Perang Dunia I. Permintaan ini muncul setelah serangan balasan Sekutu di Front Barat memaksa tentara Jerman mundur ke Garis Hindenburg, menghancurkan optimisme militer Jerman yang sempat menguasai medan perang pada musim semi tahun itu. Kekhawatiran akan kerugian besar bagi rakyat sipil dan pasukan memaksa para pemimpin militer, termasuk Jenderal Erich Ludendorff dan Paul von Hindenburg, mendesak pemerintah untuk segera bertindak. Meski von Baden awalnya enggan mengakui kekalahan dan khawatir kehilangan wilayah penting seperti Alsace-Lorraine, tekanan internal dari partai sosialis dan semakin kuatnya sentimen antiperang di dalam negeri akhirnya mendorongnya mengirim permohonan resmi itu.
Permintaan Jerman itu disambut dengan syarat dari Wilson bahwa Sekutu hanya akan bernegosiasi dengan pemerintah Jerman yang demokratis, bukan rezim kekaisaran yang dikuasai militer. Von Baden berusaha meyakinkan bahwa Jerman sedang bergerak menuju sistem parlementer, tetapi Sekutu—terutama Inggris dan Prancis—tetap tidak percaya. Di tengah perdebatan sengit antara militer dan pemerintah sipil, Ludendorff sempat menolak respons Wilson dan ingin melanjutkan perang, namun situasi di medan perang dan di rumah terus memburuk. Dalam waktu sebulan, Ludendorff mengundurkan diri, dan pada 7 November, Hindenburg menghubungi Panglima Tertinggi Sekutu Ferdinand Foch untuk memulai negosiasi resmi. Empat hari kemudian, Perang Dunia I berakhir.















