Home Berita Internasional Lenin Tertembak Dua Kali dalam Upaya Pembunuhan pada 30 Agustus 1918

Lenin Tertembak Dua Kali dalam Upaya Pembunuhan pada 30 Agustus 1918

Sumbawanews.com,- Pada 30 Agustus 1918, Vladimir Lenin, pemimpin revolusi Bolshevik dan tokoh utama Soviet, ditembak dua kali oleh Fanya Kaplan, anggota Partai Revolusioner Sosialis Rusia, setelah berpidato di sebuah pabrik di Moskow. Meski mengalami luka serius, Lenin selamat dari serangan itu. Kejadian ini memicu gelombang represi besar-besaran oleh kaum Bolshevik terhadap lawan politik, termasuk kelompok Revolusioner Sosialis, yang berujung pada eksekusi massal selama perang saudara yang tengah berkecamuk di Rusia.

Kaplan, yang bertindak sendirian, menembak Lenin saat ia meninggalkan lokasi pidato. Peluru mengenai bahu dan leher Lenin, namun ia tidak meninggal. Serangan itu menjadi titik balik dalam sejarah Soviet, memperdalam kecurigaan rezim terhadap oposisi dan mempercepat penerapan Teror Merah sebagai alat penindasan politik. Lenin, yang sebelumnya telah memimpin Revolusi Oktober 1917 dan mendirikan pemerintahan Marxis pertama di dunia, terus memimpin meski dalam kondisi fisik yang lemah hingga kematiannya pada 1924.

Lenin, lahir sebagai Vladimir Ilich Ulyanov pada 1870, telah lama menjadi figur sentral dalam gerakan sosialis Rusia. Ia memimpin pembentukan Partai Buruh Sosial-Demokrat Rusia pada 1903, memecah diri menjadi faksi Bolshevik yang radikal, dan memanfaatkan kekacauan akibat Perang Dunia I untuk menggulingkan Pemerintahan Sementara pada Oktober 1917. Setelah berkuasa, ia menandatangani Perjanjian Brest-Litovsk dengan Jerman, menasionalisasi industri, dan membagikan tanah kepada petani—kebijakan yang memperdalam konflik dengan kelompok pro-Tsar dan kekuatan asing, yang kemudian bergabung dalam perang saudara.

Upaya pembunuhan terhadap Lenin pada 30 Agustus 1918 tidak hanya menjadi serangan fisik, tetapi juga simbol perlawanan terhadap revolusi yang sedang mengguncang tatanan lama. Dalam waktu singkat, pemerintah Soviet memperluas penangkapan, pengadilan cepat, dan eksekusi terhadap siapa pun yang dianggap terkait dengan oposisi. Kaplan ditangkap segera setelah penembakan dan dieksekusi pada September 1918, tanpa proses pengadilan yang panjang. Tidak ada bukti bahwa ia bekerja atas perintah kelompok lain, namun pemerintah Bolshevik memanfaatkan insiden ini untuk melegitimasi kekerasan sistematis sebagai alat bertahan.

Previous articlePersija Jakarta Resmi Umumkan Skuad 2026/2027, Van Basty Sousa Tak Masuk Daftar
Next articleLiverpool Gagal Menang, Puasa Kemenangan Berlanjut Jadi Enam Laga