Sumbawanews.com,- Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengumumkan kampanye sanksi ekonomi bernama Operation Economic Outcast yang menargetkan lima sektor vital Iran: aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran. Langkah ini bertujuan memutus seluruh jalur pendapatan Teheran, termasuk dari ekspor minyak, dengan mengancam sanksi sekunder terhadap negara dan perusahaan global yang masih berbisnis dengan Iran. Bessent menyebut tindakan ini sebagai “economic D-Day,” membandingkannya dengan pendaratan Sekutu di Normandia dalam Perang Dunia II, dan menegaskan bahwa tidak ada pihak yang berada di luar jangkauan sanksi AS. Pemerintah AS juga menjatuhkan sanksi terhadap 60 entitas, kapal, dan individu di Uni Emirat Arab, Hong Kong, China, Singapura, dan Swiss yang diduga memfasilitasi transaksi Iran.
Kampanye ini diluncurkan hampir enam bulan setelah serangan militer AS dan Israel terhadap Iran gagal menggulingkan pemerintahan Teheran, meski menewaskan sejumlah pejabat tinggi termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Iran merespons dengan menutup sebagian Selat Hormuz, memicu lonjakan harga energi global. Meski blokade pelabuhan Iran telah diberlakukan sejak April, tekanan ekonomi belum memaksa Teheran menyerah pada tuntutan AS untuk menghentikan program nuklir dan serangan terhadap kapal di Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menolak sanksi baru ini sebagai rencana lama yang tidak efektif, sementara Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan bahwa tekanan ekonomi saat ini paling menyakiti Iran, meski AS tetap siap menggunakan kekuatan militer jika diperlukan.















