Sumbawanews.com,- The Japan Foundation Jakarta menggelar workshop Igo dalam rangkaian Japan Cultural Week pada 3–14 Agustus 2026, memperkenalkan permainan papan tradisional Jepang ini kepada masyarakat Indonesia. Igo, yang dikenal juga sebagai Go di internasional, Weiqi di Tiongkok, dan Baduk di Korea, berasal dari Tiongkok tetapi dipopulerkan oleh Jepang. Permainan ini melibatkan dua pemain yang menggunakan batu hitam dan putih untuk menguasai teritori di papan bergaris, dengan tujuan mengelilingi dan menangkap batu lawan sambil mempertahankan wilayah sendiri. Turnamen Igo bisa berlangsung hingga tiga hari, dan telah menjadi ajang kompetisi di SEA Games serta Asian Games.
Permainan dimulai dengan pemain batu putih menggenggam sejumlah batu dan menutupinya, sementara pemain batu hitam menebak apakah jumlahnya ganjil atau genap. Jika tebakan benar, ia tetap memegang batu hitam dan memulai langkah pertama dengan meletakkan batu pada persimpangan garis, bukan di dalam kotak. Setiap batu memiliki empat jalur napas—arah atas, bawah, kiri, dan kanan—yang bisa ditutup oleh batu lawan. Jika semua jalur napas terisi, batu tersebut dianggap tertangkap dan diambil dari papan. Pemain tidak boleh langsung mengisi titik yang baru saja dikosongkan oleh batu yang tertangkap, melainkan harus memilih langkah lain. Permainan berakhir ketika kedua pemain menyatakan “pas”, menandakan bahwa tidak ada lagi langkah yang dianggap menguntungkan. Pemenang ditentukan berdasarkan luas teritori yang dikuasai, dengan pemain batu putih mendapat tambahan 6,5 poin sebagai kompensasi atas giliran kedua, agar menghindari hasil seri.















