Sumbawanews.com,- BRI Super League 2026/2027 siap bergulir dengan komposisi kepelatihan yang hampir seluruhnya didominasi pelatih asing, kecuali satu: Ade Suhendra yang memimpin Isenmulang Kalteng FC. Sebagai satu-satunya pelatih Indonesia di 18 klub peserta, Ade melanjutkan tugasnya setelah sukses membawa tim — yang sebelumnya bernama Adhyaksa FC — menjadi juara Pegadaian Championship 2026/2027. Kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia kali ini menjadi panggung bagi arsitek asing dari tujuh negara, dengan pelatih asal Portugal menjadi kelompok terbesar.
Empat pelatih Portugal mengendalikan tim-tim besar: Mauro Jeronimo di Borneo FC Samarinda, Bernardo Tavares di Persebaya, Mario Lemos di Persijap, dan Ze Gomes di Madura United. Bernardo Tavares, yang sebelumnya membawa PSM Makassar meraih gelar juara pada musim 2023/2024, menjadi salah satu nama paling ditunggu keberhasilannya. Di samping Portugal, Brasil mengirim tiga pelatih berpengalaman — Fabio Lefundes (Java United), Osmar Loss (Dewa United), dan Marquinhos Santos (Arema FC). Spanyol diwakili Oscar Bruzon (Bhayangka FC), Carlos Pena (Persita), dan Marcos Reina (Persik), sementara Belanda mengirim Johnny Jansen (Bali United), Jean Paul Van Gastel (PSIM), dan Pieter Histra (PSS). Kroasia diwakili Igor Tolic (Persib), Bosnia-Herzegovina oleh Darije Kalezic (PSM), Asia Timur oleh Shin Tae-yong (Persija), dan Serbia oleh Milos Joksic (Garudayaksa FC).
BRI Super League dikenal sebagai liga yang keras bagi pelatih. Dalam beberapa musim terakhir, hanya enam atau tujuh dari 18 pelatih yang bertahan hingga akhir kompetisi, dengan pemecatan sering terjadi bahkan di pekan kelima atau keenam. Performa awal menjadi penentu nasib, dan tekanan dari manajemen maupun suporter membuat posisi pelatih sangat rentan. Dalam konteks ini, keberlanjutan Ade Suhendra di Isenmulang Kalteng FC menjadi cerita unik — bukan hanya karena ia satu-satunya putra bangsa di bangku pelatih, tetapi juga karena ia membawa modal kepercayaan dari gelar juara liga kedua. Kiprahnya akan jadi sorotan utama di awal musim, sebagai simbol harapan bagi pelatih lokal di tengah dominasi asing.















