Sumbawanews.com,- Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menegaskan bahwa kedaulatan Indonesia di era digital sangat bergantung pada kemampuan bangsa ini melindungi data dari serangan siber. Dalam peluncuran ITSEC Cyber & AI Academy di Jakarta pada Senin, 10 Agustus 2026, ia menekankan bahwa ancaman siber kini telah menggantikan medan perang konvensional, dan keberhasilan pertahanan nasional tidak lagi hanya ditentukan oleh senjata fisik, melainkan oleh kesadaran dan kapasitas sumber daya manusia dalam mengelola data. Stella menyoroti tiga prinsip kunci tata kelola data: pengumpulan, penyimpanan, dan penggunaan, serta menegaskan bahwa infrastruktur tanpa SDM yang siap justru akan membuka celah besar bagi pihak asing untuk memanfaatkan data nasional. Ia memperingatkan bahwa jika masyarakat tidak memahami cara menjaga data, maka kedaulatan negara akan rentan tergerus tanpa perlu invasi militer.
Selain itu, tiga berita terpopuler di kanal Tekno Liputan6.com juga mengungkap risiko baru di dunia digital. Pertama, penggunaan casing ponsel yang tidak tepat dapat mengganggu efisiensi pengisian daya nirkabel, bahkan menyebabkan overheating hingga merusak perekat belakang perangkat. Kedua, adopsi agen AI dan ekstensi browser tanpa pengawasan IT perusahaan justru membuka celah kebocoran data sensitif melalui jutaan prompt dan akun pribadi yang tidak terkelola. Ketiga, laporan Akamai menunjukkan bahwa AI kini bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan “rekan kerja” yang memiliki akses langsung ke aset digital kritis, sehingga strategi keamanan siber harus berubah dari pemblokiran menjadi pengelolaan berkelanjutan terhadap alur kerja AI.
Ketiga isu ini menunjukkan bahwa ancaman siber tidak lagi bersifat abstrak, melainkan nyata, personal, dan terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari—mulai dari perangkat pribadi hingga sistem perusahaan dan negara.















