Sumbawanews.com,- Kematian Mohammed al-Wahidi, pekerja kemanusiaan asal Palestina berusia 65 tahun, memicu duka mendalam di seluruh Jalur Gaza setelah ia tewas dalam serangan udara Israel di kawasan Sabra, Kota Gaza, pada Selasa. Ia tewas bersama tiga orang lain, termasuk dua anak laki-laki berusia delapan dan sepuluh tahun, ketika taksi yang ditumpanginya dihantam rudal. Al-Wahidi dikenal luas sebagai sosok yang tak pernah absen di lapangan, mendistribusikan bantuan pangan, mendirikan kamp pengungsi, dan menyentuh langsung kehidupan warga yang terdampak perang sejak konflik meletus pada Oktober 2023.
Sebelum perang, ia bekerja sebagai guru bahasa Inggris, lalu bergabung dengan Komite Bantuan Mesir di Gaza, organisasi yang didukung pemerintah Mesir untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan. Berbeda dengan banyak pejabat kemanusiaan lain, al-Wahidi lebih sering hadir di tengah-tengah pengungsi, berbincang, dan memenuhi kebutuhan mendesak mereka. Dalam beberapa pekan terakhir, namanya semakin dikenal setelah ia menginisiasi acara nonton bareng pertandingan Piala Dunia 2026 di Deir al-Balah dan al-Mawasi, memberikan hiburan singkat bagi anak-anak dan keluarga yang hidup dalam keprihatinan.
Ironisnya, ia gugur hanya beberapa jam sebelum salah satu acara nonton bareng babak 16 besar antara Mesir dan Argentina yang ia rencanakan digelar. Aktivis Palestina Mohammed Hmeid menggambarkan al-Wahidi sebagai “pintu harapan yang setiap hari terbuka” bagi mereka yang kehilangan segalanya. Kematian al-Wahidi memperdalam keprihatinan atas risiko yang dihadapi pekerja kemanusiaan di Gaza, di mana menurut PBB, setidaknya 593 pekerja kemanusiaan telah tewas sejak konflik dimulai, termasuk delapan orang yang tewas setelah gencatan senjata selama 10 bulan lalu.
Serangan yang menewaskan al-Wahidi diklaim militer Israel sebagai target anggota Hamas, meskipun pihak militer mengakui adanya laporan korban sipil. Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas mencatat, sejak 7 Oktober 2023, sedikitnya 73.118 orang tewas akibat serangan Israel — angka yang menjadi rujukan PBB.















