Sumbawanews.com,- Australia resmi memulai pembangunan fasilitas pertahanan udara dan rudal terpadu senilai 85,9 juta dolar Australia (Rp910 miliar) di Williamtown, wilayah Hunter, pada 3 Juli 2026. Proyek yang dipimpin Lockheed Martin Australia ini akan menjadi pusat pemeliharaan dan integrasi sistem terbesar bagi armada pesawat tempur F-35 di kawasan Indo-Pasifik, sekaligus memperkuat kemampuan pertahanan berdaulat negara tersebut. Fasilitas tersebut ditargetkan beroperasi penuh pada 2028, dengan dukungan kontraktor lokal Built, dan dirancang untuk melakukan perakitan, pengujian end-to-end, hingga pengembangan perangkat lunak pertahanan secara mandiri dalam negeri. Pemerintah Australia juga menyiapkan program pelatihan khusus untuk sistem Australian Joint Air Battle Management System sebagai tulang punggung operasi pertahanan udara terpadu.
Fasilitas baru ini akan menjadi basis utama tim pemeliharaan F-35 Lockheed Martin Australia, yang disebut sebagai operasi dukungan F-35 terbesar di tingkat internasional. Infrastruktur tambahan, termasuk kemampuan perbaikan kanopi pesawat secara lokal, sengaja dibangun untuk mengurangi ketergantungan pada layanan luar negeri. Menurut Lockheed Martin, keberadaan sistem diagnostik dan perbaikan dalam negeri akan meningkatkan kesiapan operasional Royal Australian Air Force serta memperkuat ketahanan rantai pasok pertahanan nasional. CEO Lockheed Martin Australia dan Selandia Baru, Jeremy King, menegaskan bahwa proyek ini tidak hanya memperkuat pertahanan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi signifikan bagi wilayah Hunter.
Dengan integrasi sistem IAMD generasi baru, Australia semakin menegaskan posisinya sebagai simpul strategis dalam ekosistem pertahanan Indo-Pasifik, sekaligus memperbesar kontribusinya dalam rantai pasok global industri pertahanan.














