Sumbawanews.com,- Dua pembalap Aprilia, Jorge Martin dan Marco Bezzecchi, kembali bersaing ketat di puncak klasemen MotoGP 2026, namun momentum kebangkitan Martin justru pupus di Sprint Race Assen, Sabtu (27/6/2026). Awal lomba berjalan sempurna bagi pembalap Spanyol itu—Martin memimpin dari depan, sementara Bezzecchi terpental ke posisi lima. Namun, dalam hitungan belasan putaran, strategi dan ketahanan balap Bezzecchi membuktikan diri lebih tajam.
Martin yang sempat mengancam memangkas selisih poin menjadi satu angka, justru kehilangan kendali saat disalip oleh rekan setimnya sendiri. Setelah sempat terancam oleh Francesco Bagnaia dari Ducati, Martin akhirnya finis di posisi keempat, sementara Bezzecchi berhasil mengamankan podium ketiga. Hasil ini membuat selisih poin antara keduanya melebar dari satu menjadi sembilan angka.
Dengan total 186 poin, Bezzecchi tetap memimpin klasemen, sementara Martin tertinggal di posisi kedua dengan 177 poin. Fabio di Giannantonio dari Pertamina VR46 Ducati menempati urutan ketiga dengan 164 poin, jauh di belakang duo Aprilia itu. Marc Marquez dan Ai Ogura menyusul di posisi empat dan lima, masing-masing dengan 144 dan 143 poin.
Sprint Race di Sirkuit Assen ini menjadi bukti bahwa balapan MotoGP bukan sekadar soal kecepatan awal, tapi juga ketahanan, strategi, dan konsistensi. Martin yang sebelumnya menunjukkan dominasi di kualifikasi dan awal balapan, gagal mempertahankan tekanan saat lomba memasuki fase krusial. Sementara itu, Bezzecchi—meski tidak pernah memimpin—mampu memanfaatkan kesalahan lawan dan menjaga ritme tanpa kehilangan fokus.
Klasemen sementara MotoGP 2026 hingga Assen:
1. Marco Bezzecchi (Italia, Aprilia Racing) – 186 poin
2. Jorge Martin (Spanyol, Aprilia Racing) – 177 poin (-9)
3. Fabio di Giannantonio (Italia, Pertamina VR46 Ducati) – 164 poin (-22)
4. Marc Marquez (Spanyol, Ducati Lenovo) – 144 poin (-42)
5. Ai Ogura (Jepang, Trackhouse Aprilia) – 143 poin (-43)
Dengan hasil ini, persaingan gelar juara dunia 2026 semakin panas. Martin masih punya peluang, tapi ia harus menunjukkan performa konsisten di sisa balapan—tanpa lagi mengandalkan start kilat, melainkan kecerdasan taktis di setiap tikungan.















