Home Berita Internasional Perdamaian Timur Tengah Butuh Diplomasi Berkelanjutan

Perdamaian Timur Tengah Butuh Diplomasi Berkelanjutan

Sumbawanews.com,- Darmansjah Djumala, Dewan Pakar BPIP Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, menegaskan bahwa kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran pada 17 Juni 2026 meski membawa harapan baru, belum cukup menjamin stabilitas jangka panjang di Timur Tengah. Menurutnya, diplomasi yang baru saja dinyalakan harus dijaga dengan komitmen konsisten, bukan sekadar pernyataan simbolis.

MoU yang ditandatangani kedua negara itu memang menjadi titik balik penting setelah bertahun-tahun hubungan mereka dipenuhi ketegangan, sanksi, dan saling tuduh. Namun, Darmansjah mengingatkan bahwa sejarah menunjukkan kesepakatan bilateral sering runtuh jika tidak dibarengi dengan upaya membangun kepercayaan strategis di tingkat kawasan. “Ini bukan akhir konflik, tapi awal dari proses panjang yang penuh risiko,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (23/6/2026).

Mantan duta besar RI untuk Austria dan PBB itu menyoroti dinamika kompleks yang masih menghantui kawasan, terutama eskalasi di Lebanon Selatan. Ketegangan antara Hezbollah dan Israel, yang didukung oleh kekuatan regional, berpotensi memicu reaksi berantai yang bisa menggagalkan kemajuan diplomasi AS-Iran. “Iran menghadapi tekanan domestik untuk tetap mendukung kelompok sekutunya, sementara AS harus menyeimbangkan komitmen baru dengan aliansi strategisnya bersama Israel,” jelas Darmansjah.

Ia menekankan bahwa perdamaian tidak bisa dibangun hanya dari meja perundingan antara dua aktor utama. Diperlukan kerangka multilateral yang melibatkan negara-negara tetangga, organisasi regional, dan bahkan aktor non-negara yang memiliki pengaruh nyata di lapangan. “Ketika satu pihak menahan diri, tapi pihak lain terus menggenggam senjata, maka diplomasi hanya menjadi ilusi,” tegasnya.

Pandangan ini, menurut Darmansjah, selaras dengan prinsip dasar kebijakan luar negeri Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945: mengutamakan perdamaian abadi, menolak kekerasan, dan membangun tatanan dunia berkeadilan. BPIP, sebagai lembaga yang bertugas membina ideologi Pancasila, terus mendorong penguatan diplomasi sebagai alat utama penyelesaian konflik—bukan senjata, bukan ancaman, tapi dialog yang berkelanjutan.

Ia menambahkan, tantangan terbesar bukan pada kesepakatan itu sendiri, melainkan pada kemampuan semua pihak untuk menahan diri dari provokasi, menghentikan agresi berskala kecil yang bisa memicu perang besar, dan menciptakan ruang aman bagi kepercayaan untuk tumbuh. “Perdamaian di Timur Tengah bukan hadiah yang diberikan, tapi hasil kerja keras bertahun-tahun. Kita harus siap untuk menunggu, mengawasi, dan terus berdialog—bahkan ketika suasana terasa suram.”

Previous articleKeir Starmer Mundur, Inggris Hadapi Kekosongan Kepemimpinan
Next articleKSP Ajak Kementerian Lain Tiru Ketahanan Pangan di Lapas
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik