Sumbawanews.com,- Pelatih Timnas Portugal, Roberto Martinez, menegaskan bahwa timnya justru semakin solid pasca laga pembuka Piala Dunia 2026 yang berakhir imbang 1-1 melawan Kongo. Meski mendapat kritik tajam, terutama terhadap kapten berusia 41 tahun, Cristiano Ronaldo, Martinez bersikeras bahwa kekompakan tim jauh lebih penting daripada angka statistik atau tekanan media.
Dalam konferensi pers di Houston, Martinez menekankan bahwa kebersamaan di dalam skuad kini jauh lebih kuat dibandingkan sebelum keberangkatan ke turnamen. “Kami lebih bersatu, lebih kuat. Tidak ada ketegangan di dalam kamar ganti,” ujarnya. Ia menolak membiarkan kekalahan atau hasil imbang menjadi cerminan kelemahan tim, sebaliknya, ia melihatnya sebagai titik awal untuk memperkuat ikatan antar pemain.
Martinez secara konsisten membela Ronaldo, yang hingga kini belum mencetak gol untuk Portugal sejak Oktober 2025, meski telah menyumbang lima gol selama kualifikasi. “Dia bukan hanya kapten, tapi contoh hidup tentang disiplin, kerja keras, dan kepemimpinan,” kata Martinez. “Pergerakannya membuka ruang, perannya di lapangan tak bisa diukur hanya dari jumlah gol. Dia adalah panutan bagi semua pemain muda di tim ini.”
Pelatih asal Belgia itu menambahkan bahwa pengalaman Ronaldo—yang kini memainkan Piala Dunia keenamnya—tetap menjadi aset strategis. “Dia tahu bagaimana pulih dari tekanan, bagaimana berlatih dengan fokus, dan bagaimana menginspirasi tim di saat-saat kritis. Itu tidak bisa ditiru hanya dengan latihan biasa.”
Meski banyak pihak mempertanyakan masa depan Ronaldo di level internasional, Martinez menegaskan bahwa keputusan untuk mempertahankannya sebagai kapten bukanlah pilihan emosional, melainkan keputusan taktis yang didukung oleh observasi harian di latihan. “Kami tidak membutuhkan pemain yang hanya mencetak gol. Kami butuh pemimpin yang bisa mengubah tekanan menjadi energi. Dan Cristiano adalah orangnya.”
Dengan laga kedua melawan Uzbekistan yang segera tiba, Portugal berada di persimpangan. Namun, di balik sorotan kritis, Martinez justru membangun narasi baru: bukan tentang seorang legenda yang mulai pudar, tapi tentang sebuah tim yang semakin menyatu di bawah kepemimpinan seorang veteran yang tak tergantikan.















