Home Berita Nasional Puncak Kerinci, Tempat Hasto Merenungkan Nasionalisme

Puncak Kerinci, Tempat Hasto Merenungkan Nasionalisme

Sumbawanews.com,- Di puncak Gunung Kerinci, tepat pada 21 Juni 2026, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto berdiri di ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut, menghadap hamparan Bukit Barisan yang membentang luas. Di bawah langit biru yang jernih, ia dan sejumlah kader muda partai merenung—bukan sekadar menikmati keindahan alam, tapi memaknai setiap langkah pendakian sebagai simbol perjuangan bangsa.

Pendakian ini menjadi bagian dari rangkaian Bulan Bung Karno, yang dipilih karena bulan Juni menyimpan tiga momen bersejarah: kelahiran Soekarno, pidato lahirnya Pancasila pada 1 Juni 1945, dan wafatnya Sang Proklamator pada 21 Juni 1970. Dari puncak gunung tertinggi di Sumatera dan Asia Tenggara itu, Hasto mengingatkan bahwa mencintai Indonesia bukan hanya soal retorika, tapi tindakan nyata—kesabaran, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam.

“Setiap langkah di medan yang berat mengajarkan kita: tujuan yang kuat akan mengalahkan rintangan,” ujar Hasto, sambil menatap cakrawala yang membelah pulau-pulau nusantara. Ia menekankan bahwa gunung, seperti bangsa ini, tidak pernah menyerah meski dihujani badai. Di sini, di ketinggian yang menguji fisik dan jiwa, nilai-nilai perjuangan Bung Karno hidup kembali: keteguhan, persatuan, dan kecintaan pada tanah air yang tak tergantikan.

Dari puncak, hamparan hutan, sungai, dan laut yang membentang tak berbatas menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan warisan masa lalu, tapi amanah yang harus dijaga setiap generasi. Hasto menegaskan, Bulan Bung Karno adalah momentum untuk menanamkan semangat nasionalisme lewat hal-hal sederhana: menjaga lingkungan, menghormati sejarah, dan membangun persatuan di tengah keragaman.

“Kita tidak perlu menunggu panggilan besar untuk menjadi pahlawan. Cukup dengan menjaga kebersihan di sekitar kita, menghargai perbedaan, dan terus belajar dari warisan para pendiri bangsa,” katanya.

Di bawah langit yang semakin memerah menjelang senja, bendera merah putih dikibarkan di puncak Kerinci—bukan sebagai simbol seremonial, tapi sebagai pernyataan: Indonesia masih hidup, dalam setiap napas yang berani mendaki, dalam setiap langkah yang tak menyerah.

Previous articleBareskrim Buru Bandar Sabu Jaringan Sumut-NTB
Next articleLebanon Jadi Kunci Kesepakatan Iran-AS
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik