Sumbawanews.com,- Jakarta – Dua siswa dari SMAN Unggulan MH Thamrin, Jakarta Timur, berhasil tembus beasiswa S1 di Wageningen University, Belanda, lewat program Sekolah Garuda yang digagas pemerintah. Mereka adalah Muhammad Rafa Alfalah Dermawan dan Amelia Febriani Rachman, yang akan menempuh studi di bidang Ilmu Lingkungan.
Program Sekolah Garuda, yang mengintegrasikan pendidikan berbasis asrama dan kurikulum intensif, menjadi jembatan bagi siswa berprestasi dari latar belakang ekonomi terbatas untuk menembus pendidikan tinggi global. Keduanya bukan hanya berhasil lolos seleksi ketat, tetapi juga melewati tantangan adaptasi budaya dan tekanan finansial yang menghantui keluarga mereka.
Rafa mengaku sempat kewalahan saat pertama kali masuk asrama. “Dulu di rumah, semua diurus orang tua. Di sini, kita harus mandiri—bangun pagi, jadwal belajar padat, bahkan belajar malam setelah Isya sampai jam 9.30,” katanya. Namun, lingkungan yang kolaboratif justru menjadi kunci keberhasilannya. “Tak ada senioritas di sini. Kakak kelas bahkan alumni aktif membimbing. Saya punya alumni dari angkatan 5 yang terus menemani proses saya sampai sekarang.”
Amelia, yang awalnya merasa kalah bersaing karena lingkungan yang serba cerdas, justru menemukan kekuatan dalam solidaritas teman-temannya. “Awalnya takut, semua orang sepertinya jenius. Tapi justru karena mereka mau ajari, belajar bareng, saya jadi percaya diri. Ini bukan kompetisi, ini kolaborasi.”
Kedua siswa ini mengakui, keputusan kuliah ke luar negeri sempat ditentang orang tua. Amelia mengisahkan, ibunya awalnya enggan melepaskan putrinya ke negeri orang. “Saya jelaskan satu per satu: ini bukan sekadar kuliah, ini investasi untuk Indonesia. Akhirnya, mereka percaya.”
Sementara Rafa, yang berasal dari keluarga dengan UKT tinggi, mengatakan beasiswa Garuda adalah penyelamat. “Tanpa ini, saya tidak mungkin kuliah ke Belanda. Biaya UKT saja bisa puluhan juta per semester. Sekarang, saya bisa fokus belajar tanpa beban.”
Keduanya pun punya visi besar setelah lulus. Rafa bercita-cita menjadi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, membawa kebijakan berbasis sains ke Indonesia. “Saya ingin perubahan sistemik. Bukan hanya menanam pohon, tapi merancang kebijakan yang berkelanjutan.”
Amelia, meski masih mengeksplorasi peminatan—apakah teknologi lingkungan atau kebijakan publik—berkomitmen kuat untuk kembali. “Ilmu yang saya dapatkan bukan milik saya sendiri. Ini milik Indonesia. Saya akan kembali, bekerja di lembaga riset atau pemerintah, agar generasi berikutnya tidak lagi harus pergi jauh untuk belajar hal-hal yang seharusnya ada di rumah.”
Program Sekolah Garuda, yang kini mencakup sekolah transformasi dan sekolah baru, terus menunjukkan dampak nyata: bukan hanya menghasilkan lulusan berprestasi, tapi juga mencetak pemimpin yang tidak lupa akar. Dua siswa ini adalah bukti bahwa pendidikan berkualitas, didukung kebijakan strategis, bisa mengubah takdir—dan mengembalikan ilmu ke tanah air.















