Sumbawanews.com,- Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Agustina Arumsari mengumumkan rencana penataan ulang penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menghapus siswa SMA dari keluarga mampu dari daftar penerima. Langkah ini merupakan bagian dari strategi refocusing untuk memastikan bantuan pemerintah benar-benar menyasar kelompok paling rentan, sekaligus meningkatkan efisiensi anggaran Rp 270,2 triliun yang dialokasikan untuk tahun depan.
Dalam rapat tertutup dengan Komisi IX DPR pada Senin, 15 Juni 2026, Arumsari menjelaskan bahwa penghapusan sekitar 8 juta penerima dari kalangan SMA mampu akan memperkuat fokus program pada masa kritis perkembangan gizi—yakni dari masa kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupan anak. “Di periode seribu hari pertama, otak anak berkembang paling pesat. Ini titik paling strategis untuk intervensi,” ujarnya.
BGN berkoordinasi erat dengan Kementerian Kesehatan dan kementerian terkait untuk menyusun kriteria baru penerima berdasarkan data kemiskinan multidimensi, indeks gizi balita, dan kondisi kesehatan ibu hamil. Tujuannya, tidak sekadar memperluas jangkauan, tetapi memperdalam dampak: memastikan setiap rupiah anggaran berkontribusi nyata terhadap penurunan stunting dan kekurangan gizi kronis.
Selain merevisi penerima, BGN juga akan mengevaluasi seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di lapangan. Beberapa dapur berpotensi digabung atau ditutup jika hasil audit menunjukkan tidak memenuhi standar kebersihan, distribusi, atau akuntabilitas. Operasional program di sekolah akan dihentikan sementara selama masa libur, untuk melakukan validasi data, perbaikan infrastruktur, dan pelatihan ulang petugas.
“Kami akan stop dulu, lalu perbaiki semuanya. Ketika anak-anak kembali ke sekolah, kami ingin sistemnya lebih rapi, lebih akurat, dan lebih bermartabat,” tegas Arumsari.
Meski demikian, kebijakan ini belum final. BGN masih terus berdiskusi dengan Kementerian Keuangan dan Bappenas untuk memastikan keselarasan dengan anggaran nasional dan prioritas pembangunan. Namun, satu hal yang jelas: MBG tidak lagi sekadar program pemberian makan gratis, tapi menjadi alat strategis untuk membangun generasi sehat dari akar—dengan presisi, bukan luas.
Penghapusan siswa SMA mampu dari daftar penerima juga menandai pergeseran paradigma: dari “pemerataan” menuju “pemadatan dampak.” Dengan sasaran yang lebih fokus, BGN berharap program ini bisa menjadi model intervensi gizi berbasis bukti, yang tidak hanya mengenyangkan perut, tapi juga menyelamatkan masa depan.

















