Sumbawanews.com,- Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Indonesia tetap berpegang pada prinsip bebas dan aktif, meski berada di tengah ketegangan geopolitik global yang semakin memanas. Dalam pidatonya di pembukaan Munas HIPMI XVIII di Bandar Lampung, Rabu (10/6), ia menyatakan dengan tegas: “Seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak.”
Prabowo mengaku menjalin hubungan baik dengan para pemimpin negara besar, tanpa memihak. “Saya baik dengan Presiden Putin, tapi saya juga baik dengan Presiden Trump,” ujarnya, menekankan bahwa diplomasi Indonesia tidak boleh dipandang sebagai pilihan antara dua kutub, melainkan sebagai upaya menjaga kepentingan nasional.
Ia menolak anggapan bahwa kunjungan ke Moskow berarti mendukung Rusia, atau perjalanan ke Washington berarti berpihak pada Amerika Serikat. “Di sini saya disalahkan, di sana saya disalahkan. Tapi noise selalu ada. Yang penting, saya yakin garis kita di mana,” tegasnya.
Kunjungan Presiden ke berbagai negara kuat—China, AS, Rusia, Inggris, Brasil, dan Peru—telah dilakukan sejak awal masa jabatannya. Pada November 2024, ia mengawali lawatan luar negeri dengan kunjungan ke Beijing, lalu langsung melanjutkan ke Washington. Pada 2025, ia kembali ke China untuk menghadiri parade militer memperingati 80 tahun kemenangan Perang Perlawanan Rakyat Tiongkok, sekaligus mengunjungi Rusia dua kali—pada Juni dan Desember. Tahun ini, ia telah berkunjung ke Moskow pada April dan direncanakan kembali pada pertengahan Juni.
Sementara itu, hubungan antara AS dan Rusia terus membeku akibat konflik di Ukraina, sementara ketegangan AS-China memanas di berbagai sektor, termasuk perdagangan dan keamanan regional. China dan Rusia, yang kini berada dalam ikatan erat melalui BRICS, menjadi mitra strategis yang tak bisa diabaikan.
Namun, Prabowo menekankan bahwa Indonesia tidak memiliki musuh. “Indonesia dicari karena Indonesia tidak punya musuh,” katanya. Ia menilai, sebagai presiden yang dipilih rakyat, tanggung jawab utamanya adalah menjaga stabilitas dan kesejahteraan bangsa—bukan terjebak dalam perang opini global.
“Bayangkan, Presiden Amerika mengundang saya. Presiden Rusia juga mengundang. Kalau saya datang ke Washington tapi tidak ke Moskow, itu tidak mungkin. Lalu, Presiden Xi Jinping juga mengundang. Mana yang saya tolak?” tanyanya retoris.
Dengan pendekatan ini, Prabowo menegaskan bahwa diplomasi Indonesia bukanlah sikap ambigu, melainkan strategi cerdas untuk mempertahankan kedaulatan, akses pasar, dan keamanan nasional di tengah dunia yang terpecah. Ia memilih menjadi jembatan, bukan bagian dari konflik.

















