Sumbawanews.com,- Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, melakukan kunjungan resmi ke Naypyidaw pada Senin, 8 Juni 2026, untuk bertemu langsung dengan Presiden Myanmar, Min Aung Hlaing, dan menyampaikan pesan pribadi dari Presiden Prabowo Subianto tentang pentingnya penyelesaian konflik secara damai dan inklusif. Dalam pertemuan tertutup itu, Sugiono menegaskan komitmen Indonesia untuk terus mendukung proses perdamaian yang dipimpin oleh rakyat Myanmar sendiri—prinsip yang dikenal sebagai *Myanmar-owned, Myanmar-led*.
Pesannya jelas: konflik di Myanmar tidak bisa diselesaikan dengan kekuatan militer, melainkan melalui dialog yang melibatkan semua pihak, termasuk kelompok oposisi dan komunitas etnis. Indonesia menekankan bahwa solusi berkelanjutan hanya mungkin jika berakar pada kehendak rakyat Myanmar, bukan intervensi asing. Sugiono juga menegaskan dukungan penuh terhadap Five-Point Consensus ASEAN sebagai kerangka utama dalam upaya menstabilkan situasi di negara tetangga itu.
Kunjungan ini bukan sekadar diplomasi simbolis. Indonesia telah lama menjadi salah satu suara paling konsisten dalam mendorong resolusi damai di Myanmar, sejak krisis berawal pada 2021. Selama bertahun-tahun, negara ini telah mengirimkan bantuan kemanusiaan, layanan kesehatan, dan dukungan penanggulangan bencana—termasuk pasca-gempa berkekuatan tinggi yang melanda wilayah barat Myanmar pada 2025, yang menewaskan ribuan orang.
Selain bertemu Presiden Min Aung Hlaing, Sugiono juga berdialog dengan Menteri Luar Negeri Myanmar, Tin Maung Swe, membahas peluang kerja sama bilateral di bidang pendidikan, perdagangan, dan pertukaran budaya. Kedua negara, yang menjalin hubungan diplomatik sejak 1949, memiliki akar sejarah yang dalam: keduanya adalah pendiri Konferensi Asia-Afrika 1955, yang menjadi simbol solidaritas dunia berkembang melawan kolonialisme.
Dengan kunjungan ini, Indonesia memperkuat posisinya sebagai salah satu aktor kunci dalam upaya ASEAN menengahi krisis Myanmar. Sebelumnya, menteri luar negeri Filipina, Thailand, dan Malaysia juga telah melakukan misi serupa. Namun, Indonesia tetap menjadi satu-satunya negara ASEAN yang secara konsisten menggabungkan diplomasi politik dengan bantuan kemanusiaan nyata—membangun kepercayaan, bukan hanya tekanan.
Dalam pidatonya setelah pertemuan, Sugiono menutup dengan kalimat yang menggema: “Perdamaian bukan hadiah dari luar, tapi warisan yang dibangun dari dalam. Indonesia percaya, rakyat Myanmar mampu menentukan masa depannya sendiri—dan kita siap mendampingi, bukan mengganti.”

















