Sumbawanews.com,- Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent akan mengumumkan paket sanksi ekonomi terberat dalam sejarah terhadap Iran pada Senin, 24 Agustus 2026, sebagai bagian dari strategi pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mengisolasi Teheran melalui tekanan finansial. Sanksi ini dirancang untuk memutus jaringan perdagangan, pelayaran, dan sistem keuangan yang mendukung ekonomi Iran, termasuk menargetkan pihak ketiga yang masih bertransaksi dengan Republik Islam tersebut.
Washington memperluas pendekatannya dari tekanan militer ke perang ekonomi, dengan istilah “economic D-Day” digunakan Trump untuk menggambarkan kampanye ini. Strategi utamanya adalah sanksi sekunder—mengancam perusahaan asing dengan kehilangan akses ke pasar dan sistem keuangan AS jika tetap berbisnis dengan Iran. Dalam wawancara dengan CNBC pada 20 Agustus 2026, Bessent menegaskan bahwa sanksi yang akan diumumkan akan melampaui semua paket sebelumnya dalam skala dan dampak.
Tantangan terbesar bagi rencana ini adalah China, yang pada 2025 membeli lebih dari 80 persen minyak Iran yang dikirim melalui laut, sebagian besar ke kilang-kilang independen di negara itu. Beijing secara tegas menolak mengikuti tekanan AS, menegaskan bahwa sanksi tidak akan menyelesaikan krisis Iran dan tetap menganjurkan solusi diplomatik. Data Kpler menunjukkan pengiriman minyak Iran ke China turun dari rata-rata 1,4 juta barel per hari pada 2025 menjadi sekitar 534 ribu barel per hari pada Agustus 2026, meski penurunan ini diduga lebih disebabkan oleh gangguan logistik dan penghentian pelacakan tanker daripada kepatuhan terhadap sanksi AS.
Persediaan minyak Iran yang ditampung di tanker di luar jangkauan AS juga turun dari 105 juta barel menjadi 80 juta barel, memaksa kilang China mencari alternatif dari Brasil dan Irak. Penurunan pasokan ini mulai mengikis keuntungan besar yang biasanya diperoleh pembeli China dari diskon minyak Iran. Namun, AS menghadapi dilema: semakin agresif sanksi terhadap entitas China, semakin tinggi risiko konflik ekonomi dengan Beijing—mengubah sanksi terhadap Iran menjadi ujian geopolitik terberat bagi Bessent dan pemerintahan Trump.















