Sumbawanews.com,- Sepekan setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh Wali Kota New York Zohran Mamdani sebagai “wali kota antisemit” di podium Sidang Majelis Umum PBB, Mamdani merespons melalui podcast *This Past Weekend* bersama Theo Von pada 1 Oktober 2026. Ia menegaskan bahwa serangan pribadi dari Netanyahu justru merupakan strategi untuk mengalihkan perhatian dari tindakan pemerintah Israel terhadap warga Palestina di Gaza. Mamdani menolak menjadi pusat perdebatan dan menekankan bahwa isu yang seharusnya menjadi fokus adalah pertanggungjawaban atas krisis kemanusiaan di Gaza, bukan pernyataan politik yang menyerang dirinya.
Netanyahu, dalam pidatonya di PBB pada 24 September 2026, secara terbuka menyalahkan Mamdani atas apa yang disebutnya sebagai kebohongan tentang Israel, bahkan menyebut kantor wali kota itu sebagai “kantor wali kota antisemit New York”. Ia juga menuduh Mamdani berupaya membungkamnya dan mengaitkan dirinya dengan Hamas—tuduhan yang langsung dibantah Mamdani. Sementara itu, Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer Israel di Gaza bertujuan mencegah genosida, bukan melakukannya, serta menyalahkan Hamas karena memanfaatkan warga sipil sebagai perisai.
Dalam podcast tersebut, Mamdani mengungkapkan keheranannya atas bagaimana seorang pemimpin negara asing memilih menyebut namanya secara langsung di forum internasional. Ia mengatakan sedang bertemu dengan Perdana Menteri Belanda Rob Jetten saat pidato Netanyahu berlangsung, dan baru mengetahui isi pidato itu setelah pertemuan selesai. Meski merespons dengan nada ringan, ia segera mengalihkan pembicaraan kembali ke situasi kemanusiaan di Gaza, menegaskan bahwa penyebutan namanya bukanlah inti masalah.
Pernyataan Mamdani memperdalam ketegangan diplomatik yang telah berlangsung berbulan-bulan. Pidato Netanyahu di PBB sempat memicu aksi protes di luar markas PBB, dengan polisi menangkap setidaknya 30 demonstran, termasuk sejumlah politisi dan aktor. Lebih dari dua puluh delegasi negara meninggalkan ruang sidang saat Netanyahu berbicara, yang kemudian ia kutuk sebagai “pengecut moral”. Namun, bagi Mamdani, semua itu hanyalah distorsi—yang penting, menurutnya, adalah keadilan bagi rakyat Palestina.















