Sumbawanews.com,- Sebuah helikopter tempur AH-64 Apache milik Angkatan Darat Amerika Serikat jatuh di dekat Selat Hormuz pada Senin (8/6) waktu setempat, memicu kekhawatiran akan eskalasi ketegangan di kawasan strategis itu. Kedua awak berhasil diselamatkan dalam operasi penyelamatan yang belum dijelaskan rincian teknisnya, menurut laporan *New York Times* yang mengutip sumber militer.
Presiden Donald Trump mengonfirmasi bahwa para awak dalam keadaan selamat, namun menolak memberikan spekulasi tentang penyebab kejadian. “Laporan resmi akan segera dirilis,” ujarnya singkat, tanpa menyebut kemungkinan serangan atau kerusakan teknis.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) belum memberikan pernyataan resmi, meninggalkan tiga kemungkinan utama: ditembak jatuh, kegagalan mekanis, atau gangguan navigasi akibat gangguan elektromagnetik. Ini menjadi insiden pertama yang melibatkan Apache dalam konflik berkelanjutan antara AS dan Iran sejak Februari lalu, ketika Iran berhasil menembak jatuh puluhan drone MQ-9 Reaper dan dua pesawat tempur F-15E.
Apache, salah satu senjata paling mematikan di udara, dilengkapi rudal Hellfire dan dirancang untuk misi patroli di jalur maritim kritis seperti Selat Hormuz—tempat Iran kerap mengancam menutup lalu lintas minyak global. Helikopter ini biasanya diterbangkan untuk menghancurkan kapal kecil bersenjata dan menangkal serangan drone, menjadikannya sasaran potensial dalam konflik asimetris.
Sebelumnya, Iran telah menembak jatuh sekitar 30 drone Reaper sejak Februari, sementara AS mengklaim telah menghancurkan puluhan sistem pertahanan udara Iran. Namun, kejadian ini menandai pertama kalinya pesawat berawak AS—terutama Apache yang dianggap paling tangguh—jatuh dalam konflik tersebut.
Ketegangan di kawasan terus memanas. Baru sebulan lalu, Trump mengancam akan “mengambil dan menghancurkan seluruh cadangan uranium Iran,” sementara Iran terus memperkuat posisinya di perairan strategis itu. Kini, dunia menanti laporan resmi militer AS—yang kemungkinan besar akan menentukan apakah insiden ini menjadi titik balik atau sekadar kecelakaan dalam perang dingin udara yang semakin berbahaya.

















