Sumbawanews.com,- Presiden Prabowo Subianto akan menerima surat kepercayaan (letter of credence) dari 17 duta besar luar biasa dan berkuasa penuh (LBBP) negara sahabat, pada Senin, 8 Juni 2026, di Istana Kepresidenan Jakarta. Prosesi ini menandai resminya penugasan para diplomat tersebut di Indonesia, setelah menunggu hingga delapan bulan sejak upacara serah terima terakhir pada November 2025.
Penyerahan kredensial, yang biasanya menjadi ritual diplomasi paling symbolis dalam hubungan antarnegara, sempat menuai kritik dari kalangan pakar luar negeri. Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal menyebut jeda panjang ini berpotensi melemahkan citra diplomasi Indonesia di mata dunia. “Ada dubes yang sudah menunggu delapan bulan. Ini bukan soal administrasi biasa, tapi soal penghormatan terhadap kedaulatan dan kepercayaan negara mitra,” ujarnya.
Menteri Luar Negeri Sugiono menanggapi kekhawatiran itu dengan menegaskan bahwa hubungan bilateral tetap berjalan lancar meski proses administratif belum selesai. “Komunikasi dengan para duta besar berjalan rutin, kerja sama teknis tidak terganggu, dan substansi hubungan tetap kuat,” kata Sugiono usai pertemuan bilateral dengan Menlu Madagaskar, Alice N’Diaye, pada 3 Juni lalu.
Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengonfirmasi bahwa penyerahan kredensial akan digelar pada hari yang sama dengan pelantikan sejumlah pejabat tinggi negara, termasuk penasihat khusus presiden dan kepala Badan Gizi Nasional. “Kami ingin efisien, tapi tetap menjaga protokol dan makna simbolis dari setiap acara,” ujarnya.
Para duta besar tersebut tiba di Indonesia dalam periode yang berbeda-beda setelah upacara serah terima terakhir pada November 2025, ketika Prabowo menerima kredensial dari 12 duta besar. Proses penundaan ini dikaitkan dengan tahapan birokrasi internal yang kompleks, termasuk verifikasi dokumen, koordinasi antarinstansi, dan penyesuaian jadwal presiden yang padat.
Meski demikian, Kementerian Luar Negeri menjamin tidak ada negara yang merasa diabaikan. “Kami telah bertemu satu per satu, menjelaskan situasi, dan memastikan mereka merasa dihargai,” ujar Sugiono.
Dengan penyerahan kredensial ini, Indonesia kembali menegaskan komitmennya terhadap tata kelola diplomasi yang tertib dan beradab. Bagi para duta besar, momen ini bukan sekadar formalitas—tapi titik balik dari sebuah misi: membangun jembatan antarbangsa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

















