Sumbawanews.com,- Teheran – Di tengah ketegangan militer yang memburuk antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, akses terhadap obat-obatan esensial di Iran kini berubah menjadi perjuangan harian bagi jutaan warganya. Meski sanksi internasional secara resmi tidak melarang impor obat, dampaknya jauh lebih luas dan mematikan: rantai pasok terputus, biaya logistik melonjak, dan mata uang lokal anjlok hingga membuat harga obat naik hingga enam kali lipat.
Krisis ini bukan lagi soal obat langka untuk penyakit langka. Pasien diabetes di Rasht harus menunggu berhari-hari untuk mendapatkan insulin, yang kini dijual dengan harga 600% lebih mahal dari sebelumnya. Seorang ahli jantung di Teheran mengatakan, pasiennya mulai memilih berhenti minum obat antiplatelet karena tidak mampu membayar—padahal obat itu menentukan hidup atau mati. Di beberapa apotek, obat-obatan kritis bahkan disimpan di brankas, hanya dikeluarkan jika pembeli benar-benar mampu membayar.
Sistem kesehatan Iran, yang sejak lama bergantung pada bahan baku impor dan teknologi farmasi luar negeri, kini terjepit di antara dua tekanan: sanksi perbankan yang memblokir transaksi internasional, dan perang yang merusak jalur distribusi. Meski pemerintah menyatakan cadangan strategis masih aman, kenyataan di lapangan jauh lebih suram. Juru bicara Asosiasi Apoteker Iran, Hadi Ahmadi, memperingatkan bahwa kelangkaan bahan baku seperti aluminium dan petrokimia—yang digunakan untuk kemasan dan produksi obat—akan memicu krisis produksi jangka panjang, bahkan jika stok saat ini belum habis.
Yang lebih menghancurkan adalah hilangnya jalan keluar alternatif. Dulu, keluarga Iran bisa mengandalkan kerabat di luar negeri untuk mengirim obat dari Eropa atau negara tetangga. Kini, pembatasan transportasi udara, blokade pelabuhan, dan pengetatan kontrol perbatasan membuat saluran ini pun tertutup. Banyak pasien kini berpindah dari satu apotek ke apotek lain, mengandalkan grup WhatsApp dan media sosial hanya untuk mengetahui apakah ada stok obat tertentu—dan apakah mereka masih mampu membelinya.
Seorang pasien kronis di kota besar mengatakan, selama enam minggu ia berkeliling mencari satu jenis obat saja. “Setiap kali saya tanya, jawabannya sama: ‘Kami tidak punya.’ Saya hanya butuh satu obat. Bayangkan mereka yang butuh lima, sepuluh, atau lebih.”
Krisis ini bukan sekadar masalah ekonomi. Ini adalah krisis kemanusiaan yang berjalan diam-diam—di balik pintu klinik, di ruang tunggu rumah sakit, dan di dalam hati para keluarga yang harus memilih antara makan atau membeli obat. Di tengah retorika politik dan perang kata-kata, nyawa-nyawa biasa justru menjadi korban paling nyata.















