Sumbawanews.com,- Brussels — Empat orang tewas dalam kecelakaan maut di Belgia, setelah sebuah minibus antar-jemput sekolah menerobos palang pintu perlintasan kereta yang sudah tertutup rapat. Dua di antara korban adalah anak-anak berusia 12 dan 15 tahun, yang tengah dalam perjalanan pulang sekolah.
Kejadian tragis itu terjadi sekitar pukul 08.08 waktu setempat di Buggenhout, wilayah utara Belgia. Menurut keterangan resmi kepolisian, minibus tersebut mengangkut tujuh siswa, seorang pendamping, dan seorang pengemudi. Saat melintas di perlintasan sebidang, lampu peringatan sudah berkedip merah, bel berbunyi, dan palang pintu telah turun sepenuhnya—tanda jelas bahwa kereta sedang mendekat. Namun, minibus tetap melaju, menabrak rel dan langsung disambar kereta komuter yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi.
“Benturannya sangat dahsyat,” kata juru bicara kepolisian Frederic Sacre. “Kami belum pernah melihat kecelakaan semacam ini dalam beberapa dekade terakhir.”
Rekaman kamera pengawas yang dirilis oleh Infrabel, operator infrastruktur kereta api Belgia, menunjukkan bahwa minibus tidak berhenti meski semua sistem keselamatan aktif. Tidak ada indikasi kerusakan teknis pada kereta maupun sistem palang pintu. Penyelidikan awal menunjukkan bahwa penyebab utama adalah kelalaian manusia.
Wakil Perdana Menteri Belgia, Maxime Prevot, menyampaikan duka mendalam melalui platform X. “Tabrakan tragis antara kereta dan bus sekolah pagi ini mengambil empat nyawa, termasuk dua anak kecil. Belgia berduka,” tulisnya.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen juga ikut menyampaikan belasungkawa. “Hari ini, Eropa berduka bersama Belgia. Tidak ada kata yang cukup untuk menggambarkan kesedihan atas kehilangan sekaligus kecerobohan yang tak termaafkan.”
Kantor kejaksaan umum Belgia menyatakan bahwa penyelidikan lanjutan sedang berlangsung, termasuk pemeriksaan terhadap pengemudi minibus dan kemungkinan pelanggaran protokol keselamatan jalan. Sementara itu, masyarakat setempat berkumpul di lokasi kejadian untuk mendoakan korban, menaruh bunga, dan memasang lilin sebagai tanda duka.
Kecelakaan ini memicu debat nasional tentang keselamatan perlintasan kereta di Belgia—negara yang memiliki jaringan rel padat dan sering menjadi jalur utama transportasi harian ribuan warga, termasuk pelajar. Banyak pihak menuntut peningkatan sistem pengamanan, seperti penambahan sensor otomatis, penghalang fisik yang lebih kuat, dan kampanye edukasi masif di sekolah-sekolah.
Di tengah duka, satu hal jelas: dalam sekejap, keputusan seorang pengemudi bisa mengubah hidup banyak keluarga selamanya.















