Sumbawanews.com,- Nintendo baru saja meluncurkan Pictonico, sebuah aplikasi mobile yang tak terduga: game mikro yang menggabungkan gaya WarioWare dengan foto-foto pribadi Anda dari galeri. Meski perusahaan ini secara bertahap meninggalkan pasar ponsel, keputusan ini justru memperkuat reputasinya sebagai pembuat game paling tak terduga di dunia.
Pictonico berjalan seperti warisan klasik WarioWare—serangkaian misi super singkat, masing-masing berlangsung hanya beberapa detik, dengan instruksi absurd seperti “gigit,” “cukur,” atau “lengketkan.” Tapi ada twistnya: setiap karakter dalam game itu adalah wajah Anda—atau orang terdekat—yang diambil langsung dari foto di ponsel. Anda akan melihat istri Anda menggigit kebab dengan mulut raksasa, atau anak berusia 10 tahun Anda berubah menjadi jin berotot yang muncul dari lampu tua. Tidak ada karakter Mario, Luigi, atau Link—hanya wajah-wajah nyata yang diubah jadi karikatur lucu, kadang menggelikan, dan selalu tak terduga.
Game ini menawarkan kontrol penuh kepada pengguna: Anda memilih foto mana yang boleh digunakan, sehingga menghindari momen yang terlalu memalukan. Bahkan, dalam satu misi, saya diminta menyusun ulang potongan gambar yang ternyata adalah foto saya sendiri saat mengunjungi Museum Nintendo di Kyoto—sebuah detail yang tak disengaja tapi justru memperdalam rasa keakraban dengan pengalaman bermain.
Pictonico tersedia gratis di iOS dan Android, tapi versi dasarnya hanya menyediakan beberapa mini-game. Untuk mengakses seluruh 80 misi, pengguna harus membeli dua paket konten dengan harga masing-masing $7,69 dan $5,99. Meski terkesan aneh dan tak komersial, game ini justru sangat “Nintendo”—berakar pada semangat eksperimen yang sama seperti Labo, Miitomo, atau bahkan Tomodachi Life. Ia bukan sekadar hiburan, tapi sebuah permainan personal yang mengubah kenangan pribadi menjadi bahan lelucon digital.
Dalam era di mana Nintendo cenderung bermain aman dengan sekuel dan franchise besar, Pictonico adalah pengingat bahwa perusahaan ini paling bercahaya ketika berani menjadi aneh. Ia tak mengejar profit besar, tak membangun ekosistem, dan tak butuh jutaan unduhan. Ia hanya ingin membuat Anda tersenyum—bahkan mungkin geli—saat melihat wajah sendiri jadi bagian dari dunia yang tak masuk akal. Dan mungkin, itu justru yang paling langka di zaman ini.















