Sumbawanews.com,- Kenaikan permukaan laut yang kian tak terbendung mengancam keberlangsungan hutan mangrove di sepanjang pesisir Indonesia. Data ilmiah menunjukkan, setiap sentimeter kenaikan air laut dapat menggerus hingga 10 hingga 20 meter garis pantai, tergantung pada topografi dan kepadatan akar mangrove. Di sejumlah wilayah seperti Kalimantan, Sumatra, dan Papua, hutan bakau yang selama ini menjadi benteng alami penahan abrasi dan penyerap karbon mulai terendam lebih lama setiap harinya—mengganggu siklus hidup tanaman yang hanya bisa bertahan dalam kisaran salinitas dan genangan air tertentu.
Mangrove bukan sekadar tanaman pesisir. Akarnya yang menjulang menjadi rumah bagi ribuan spesies ikan, udang, dan krustasea yang menjadi tulang punggung ekonomi nelayan lokal. Di saat yang sama, hutan ini menyerap karbon hingga empat kali lebih efisien daripada hutan darat biasa. Namun, jika kenaikan air laut terus berlangsung pada laju 3,7 milimeter per tahun—seperti yang diprediksi IPCC hingga 2050—sekitar 30 persen luas mangrove di Indonesia berisiko hilang dalam dua dekade mendatang.
Fenomena ini diperparah oleh aktivitas manusia: penebangan liar, konversi lahan menjadi tambak, dan pembangunan infrastruktur pesisir yang menghancurkan jaringan akar alami. Padahal, mangrove yang sehat mampu menyerap energi gelombang laut, mengurangi risiko banjir rob, dan melindungi puluhan ribu rumah dari ancaman tsunami. Pemerintah telah menginisiasi program restorasi, tetapi keberhasilannya terhambat oleh kurangnya pemantauan jangka panjang dan keterlibatan masyarakat lokal yang masih terbatas.
Ilmuwan lingkungan menekankan, menyelamatkan mangrove bukan sekadar soal konservasi. Ini adalah investasi strategis untuk ketahanan iklim dan ekonomi pesisir. Tanpa intervensi mendesak, generasi mendatang mungkin hanya bisa membaca tentang hutan bakau dalam buku sejarah—sementara laut terus merangkak mendekat.

















